Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa upaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga dan komunitas warga. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah di ibu kota.
Pernyataan tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu. Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan pengelolaan dan pemilahan sampah sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
"Pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing," kata Pramono saat menghadiri kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu, 7 Juni 2026.
Pramono menekankan bahwa budaya memilah sampah tidak seharusnya muncul hanya karena adanya aturan pemerintah. Lebih dari itu, kesadaran menjaga lingkungan harus tumbuh sebagai gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Apa yang ingin kami lakukan adalah menjadikan pilah sampah sebagai perilaku sehari-hari masyarakat, bukan hanya karena ada Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, tetapi memang menjadi gerakan bersama," ujar Pramono.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye pengelolaan sampah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan berbagai fasilitas pada pelaksanaan HBKB di Rasuna Said. Fasilitas tersebut meliputi 30 tempat sampah terpilah, dua truk khusus sampah anorganik, sarana penimbangan sampah, serta petugas kebersihan yang disiagakan di sejumlah titik kegiatan.
Baca Juga: Pramono Dorong Pengelolaan Sampah Modern, Jakarta Siapkan Program Waste to Fuel
Dalam acara yang sama, Duta Pilah Sampah DKI Jakarta, Cinta Laura, turut mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih peduli terhadap persoalan lingkungan. Ia menilai setiap individu memiliki peran penting dalam mengurangi dampak masalah sampah yang terjadi saat ini.
"Sebagai generasi muda, kita sering mengeluh tentang jalanan yang kotor, polusi udara, atau persoalan sampah. Namun, yang seharusnya kita lakukan bukan menyalahkan, melainkan mengubah kebiasaan, dan menyadari bahwa kita juga bagian dari masalah yang harus ikut memberikan solusi," tutur Cinta.
Menurut Cinta, membuang sampah ke tempat sampah saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Masyarakat perlu memastikan sampah dipilah dengan benar agar dapat diproses lebih lanjut melalui pemanfaatan kembali maupun daur ulang sehingga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Selain menjadi sarana edukasi lingkungan, Cinta menilai kegiatan HBKB di kawasan Rasuna Said juga memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat. Ruang publik seperti ini dinilai mampu mendorong warga untuk beraktivitas fisik, membangun interaksi sosial, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Baca Juga: Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Target Tuntas Akhir Pekan
"Masalah lingkungan pada dasarnya adalah masalah kemanusiaan. Saya berharap ruang publik seperti ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih sering bergerak, berinteraksi, dan bersosialisasi sehingga kualitas hidup masyarakat semakin baik," ungkap Cinta.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah dapat terus meningkat sehingga Jakarta dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.
(Sumber: Antara)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengikuti kampanye Gerakan Pilah sampah di Jakarta, Minggu (7/6/2026). ANTARA/HO-Kominfotik. (Antara)