Media Asing Soroti Pelemahan Rupiah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jun 2026, 08:29
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye) Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Ntvnews.id, Jakarta - Sejumlah media internasional menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang pada Kamis, 4 Juni 2026 menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut disebut sebagai salah satu titik terendah yang pernah dialami mata uang Indonesia.

Media asal Qatar, Al Jazeera, menyoroti perkembangan tersebut dengan menyebut pelemahan rupiah telah mencapai rekor terendah sepanjang sejarah.

"Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya biaya energi," demikian laporan Al Jazeera.

Menurut laporan media tersebut, salah satu faktor yang menekan rupiah adalah dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu lonjakan harga energi global. Meski Indonesia memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, negara ini masih mengandalkan impor energi dalam jumlah tertentu.

"Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang," demikian laporan Al Jazeera.

Sorotan serupa datang dari media Hong Kong, Asia Times Dalam laporannya, media tersebut menilai pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia bergerak terlalu lambat dan kurang konsisten dalam merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Melalui artikel berjudul Indonesia's rupiah rout is not just about the dollar, Asia Times menilai pelemahan tajam rupiah selama dua bulan terakhir mencerminkan persoalan yang lebih mendalam daripada sekadar penguatan dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Jeblok, DPR Pertanyakan Kinerja Bank Indonesia

"Keruntuhan mata uang tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli yang mendasarinya, tetapi mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang didorong oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kekurangan likuiditas dolar akut di pasar spot domestik," tulis Asia Times.

"Krisis yang sedang berkembang ini diperparah oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank sentral terlalu terlena dengan moderasi inflasi domestik, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026," lanjut Asia Times.

Media tersebut juga menilai berbagai instrumen non-suku bunga yang diterapkan Bank Indonesia belum mampu menghentikan pelemahan nilai tukar rupiah secara efektif.

Sementara itu, media Singapura, The Straits Times turut memberitakan kondisi rupiah yang mencetak rekor terendah baru bersamaan dengan melemahnya pasar saham Indonesia.

Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. <b>(Antara)</b> Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (Antara)

Menurut laporan The Straits Times, kondisi tersebut memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak harga minyak yang masih tinggi terhadap kondisi fiskal Indonesia.

"Dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran tentang pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap sektor komoditas utama juga telah melemahkan sentimen," demikian laporan The Straits Times.

Media tersebut juga menyoroti pengumuman Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana pemerintah untuk mengambil kendali langsung atas ekspor sejumlah komoditas strategis. Kebijakan tersebut dinilai turut menambah kekhawatiran pelaku pasar dan investor mengenai arah kebijakan ekonomi ke depan.

Sorotan dari sejumlah media internasional tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya menjadi perhatian domestik, tetapi juga mendapat perhatian luas dari pengamat dan investor global yang mencermati stabilitas ekonomi Indonesia di tengah gejolak geopolitik dan energi dunia.

x|close