Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas nilai tukar rupiah merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI).
Karena itu, pemerintah masih mempercayakan langkah-langkah stabilisasi mata uang kepada bank sentral.
"Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka," ucap Purbaya, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: Purbaya Optimistis Meski IHSG Ambles 33 Persen Sepanjang 2026: Ekonomi Kita Bagus
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya menyampaikan pemerintah telah mengucurkan dana lebih dari Rp8 triliun untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
Langkah tersebut dilakukan guna mendukung upaya Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Purbaya menjelaskan dana tersebut digunakan untuk membeli kembali surat utang negara (SUN) yang dilepas investor asing.
"Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi ya," ungkap Purbaya.
Baca juga: Ramai Isu Mundur dari Menteri Keuangan, Purbaya: Enggak Bener Lah
Kebijakan itu bertujuan menjaga stabilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor acuan 10 tahun.
Purbaya mengatakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun hingga kini masih bergerak relatif stabil di kisaran 6,7 persen.
"Biar Anda tahu saya intervensi sedikit. Terus yield 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun," tandasnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)