Rupiah Kembali Melemah, Sentuh Level Rp17.900an per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jun 2026, 11:51
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye) Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada awal perdagangan Rabu 3 Juni 2026. 

Berdasarkan data Google Finance, rupiah menembus level Rp17.900 per dolar AS dan tercatat sempat menyentuh di posisi Rp17.935 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dari sisi eksternal dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Dari segi eksternal itu tentang masalah stagnasi. Stagnasi yang terjadi antara Amerika dan Iran ya tentang masalah perundingan," ucap Ibrahim, Rabu 3 Juni 2026.

"Jadi Iran sendiri mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Amerika itu sangat licik ya pada saat melakukan sosialisasi ya tentang masalah kesepahaman dalam perjanjian ya Amerika terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Iran. Iran pun juga berbalik melakukan penyerangan," lanjutnya.

Baca juga: Rupiah Rabu Kembali Melemah, Sentuh Rp17.878 per Dolar AS

Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. <b>(Antara)</b> Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (Antara)

Selain itu, Iran disebut siap melakukan konfrontasi dengan Israel di tengah berlanjutnya konflik di kawasan Lebanon Selatan.

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan kenaikan harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. 

"Dari segi internal, kenaikan harga minyak mentah ini membuat permintaan dolar cukup tinggi.Terutama adalah untuk impor minyak yang begitu besar ya," ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mengalihkan dana dari tabungan konvensional ke instrumen berbasis valuta asing. 

Menurutnya kondisi tersebut turut meningkatkan permintaan dolar AS dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Masyarakat ini sekarang terus memindahkan dananya juga ya dari tabungan konvensional menjadi tabungan ini ya tabungan valas. Ini yang membuat apa harga-harga juga terus mengalami perlemahan yang cukup signifikan," bebernya.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS

Oleh karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri melalui berbagai langkah strategis. 

Di antaranya menjaga daya beli masyarakat, memastikan ketersediaan pasokan barang, menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran, serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi bagi kelompok yang membutuhkan.

"Pemerintah harus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat, dengan cara memastikan ketersediaan pasokan barang terutama adalah barang-barang impor yang lebih mahal ini harus bisa dijaga ya ketersediaannya," jelas Ibrahim.

"Kemudian menyalurkan bantuan sosial berupa bansos yang tepat sasaran serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi bagi masyarakat," tandasnya.

x|close