Pembersihan Militer China Meluas, Xi Jinping Perkuat Kontrol

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jun 2026, 10:04
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden China Xi Jinping (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China) Presiden China Xi Jinping (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China) (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Gelombang pembersihan yang dilakukan Presiden China, Xi Jinping, di tubuh People's Liberation Army (PLA) disebut memasuki tahap yang lebih mendalam dan berdampak luas. Langkah tersebut dinilai tidak hanya mengubah struktur militer China, tetapi juga menimbulkan suasana ketakutan dan ketidakpastian di kalangan personel angkatan bersenjata.

Perkembangan terbaru ditandai dengan dijatuhkannya hukuman mati yang ditangguhkan kepada dua mantan menteri pertahanan China, Li Shangfu dan Wei Fenghe. Keduanya dinyatakan bersalah dalam kasus suap dan korupsi.

Dilansir dari AFP, Kamis, 4 Juni 2026, Li dan Wei selama ini dikenal sebagai figur yang dekat dengan Xi Jinping. Namun, kejatuhan mereka dipandang sebagai sinyal bahwa Xi siap mengambil tindakan terhadap siapa pun, termasuk sekutu politiknya sendiri, demi memperkuat kendali atas militer dan Partai Komunis China.

Kampanye yang secara resmi diklaim sebagai upaya pemberantasan korupsi kini dinilai sejumlah pengamat telah berkembang menjadi instrumen untuk membangun disiplin melalui rasa takut di lingkungan militer.

Hukuman berat yang dijatuhkan kepada dua mantan pejabat tinggi tersebut mengejutkan banyak perwira PLA. Dalam beberapa dekade terakhir, pejabat militer dengan posisi setinggi menteri pertahanan jarang menghadapi hukuman seberat itu.

Situasi tersebut disebut memicu kekhawatiran di kalangan perwira menengah dan junior. Banyak yang mulai merasa dapat menjadi sasaran berikutnya, terlepas dari rekam jejak maupun loyalitas mereka terhadap pimpinan negara.

Sejumlah analis menilai suasana saling curiga mulai memengaruhi soliditas internal militer China. Personel disebut semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan, sementara para komandan cenderung menghindari tindakan independen karena khawatir terhadap konsekuensi politik.

Baca Juga: Trump Ungkap Pembicaraan Soal Taiwan saat Bertemu Xi Jinping di Beijing

Pembersihan itu juga meluas ke jajaran elite militer lainnya. Pada Januari 2026, penyelidikan diumumkan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Meski secara resmi masih menjabat, keduanya dilaporkan tidak lagi terlihat dalam berbagai kegiatan publik. Zhang sendiri dikenal sebagai salah satu dari sedikit jenderal China yang memiliki pengalaman tempur langsung setelah terlibat dalam perang China-Vietnam pada 1979.

Menurut sejumlah laporan, hilangnya beberapa tokoh senior menciptakan kekosongan kepemimpinan pada saat China tengah mempercepat modernisasi militernya dengan target peningkatan kemampuan tempur pada 2027. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kesiapan operasional PLA.

Selain itu, perubahan besar di tingkat elite disebut mulai berdampak pada struktur komando militer. Pergantian pejabat yang berulang dan ketidakpastian di pucuk pimpinan dinilai berpotensi melemahkan efektivitas pengambilan keputusan strategis.

Kasus Wei Fenghe, yang sebelumnya memimpin Pasukan Roket China, juga memunculkan pertanyaan mengenai stabilitas dan keandalan sistem komando nuklir Beijing. Sementara itu, kejatuhan Li Shangfu dianggap mengungkap kelemahan dalam sistem pengadaan dan pengembangan peralatan pertahanan negara.

Presiden China Xi Jinping. (Foto: Istimewa) <b>(Tangkapan Layar: Instagram)</b> Presiden China Xi Jinping. (Foto: Istimewa) (Tangkapan Layar: Instagram)

"Xi lebih berfokus menciptakan rasa takut daripada sekadar memberantas korupsi," tulis laporan tersebut, yang juga menyebutkan bahwa loyalitas di tubuh militer kini dibangun melalui intimidasi, bukan kompetensi.

Para pengamat memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menggerus moral tempur dan mengurangi tingkat kepercayaan antarpersonel dalam tubuh PLA.

Bahkan, sejumlah sumber internal menggambarkan PLA sebagai "raksasa yang mengalami kelumpuhan otak," karena kapasitas dan kekuatan militernya dinilai tidak lagi sejalan dengan efektivitas kepemimpinan yang ada.

Sejak 2022, Xi Jinping disebut telah menyingkirkan lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat, menyisakan dirinya dan Zhang Shengmin. Meski langkah tersebut memperkuat kontrol pribadi Xi terhadap militer, sejumlah analis menilai kondisi itu justru memperbesar atmosfer ketakutan dan ketidakpercayaan di lingkungan PLA.

Baca Juga: Usai Trump ke Beijing, Putin Dijadwalkan Bertemu Xi Jinping di China

Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga memengaruhi persepsi internasional terhadap kekuatan militer China.

"Militer yang sibuk dengan pembersihan internal sulit memproyeksikan kekuatan secara kredibel ke luar negeri," tulis laporan Nepal Saja.

Upaya Beijing untuk menjadikan PLA setara dengan militer Amerika Serikat pada 2027 kini dinilai menghadapi tantangan baru akibat ketidakstabilan internal yang terus berkembang.

"PLA mungkin tetap menjadi militer terbesar di dunia, tetapi di bawah atmosfer ketakutan dan ketidakpercayaan, kekuatan itu bisa melemah dari dalam," tutup laporan tersebut.

x|close