Ntvnews.id, Beijing - Kawasan wisata di Beijing kini diramaikan oleh wisatawan yang tampil layaknya kaisar dan permaisuri dari era China kuno. Fenomena ini turut mendorong pertumbuhan bisnis penyewaan kostum tradisional dan jasa tata rias di berbagai destinasi wisata, terutama di sekitar Kota Terlarang (Forbidden City).
Popularitas drama China (dracin), khususnya yang mengangkat kisah kerajaan dan sejarah, menjadi salah satu faktor utama yang memicu tren tersebut.
Pemandangan wisatawan mengenakan pakaian khas kerajaan ala dracin kini menjadi hal yang biasa ditemui di area Kota Terlarang. Salah seorang penata rias, Chen Jiao, yang bekerja di sebuah studio dekat lokasi wisata bersejarah itu, mengaku telah melayani banyak pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menjadi tokoh bangsawan dari masa lampau.
"[Kunjungan turis] bisa sangat ramai selama peak season, terutama hari libur dan akhir pekan," kata Chen seperti dikutip dari AP, Selasa, 2 Juni 2026.
Chen memulai pekerjaannya sejak pukul 06.00 pagi dan dapat merias sekitar 24 perempuan muda setiap harinya. Menurutnya, aktivitas di studio hampir tidak pernah sepi. Kesempatan beristirahat baru terasa ketika Kota Terlarang ditutup untuk pengunjung.
Setiap hari, wisatawan datang untuk mengenakan jubah tradisional yang dihiasi bordiran burung phoenix, lengkap dengan aksesori berupa liontin giok, mutiara, hingga pelindung kuku berwarna emas yang identik dengan kalangan kerajaan pada masa lalu. Penampilan tersebut kemudian dilengkapi dengan tata rambut yang disesuaikan dengan periode dinasti yang dipilih, termasuk berbagai ornamen khas pada rambut.
Untuk menikmati pengalaman bertransformasi menjadi bangsawan China kuno, pengunjung perlu mengeluarkan biaya rata-rata sekitar 300 yuan atau hampir Rp800 ribu. Namun, paket yang lebih lengkap dapat mencapai lebih dari 1.000 yuan atau sekitar Rp2,6 juta.
Baca Juga: Menhan AS Khawatir dengan Peningkatan Kekuatan Militer China
Setelah selesai berdandan, para wisatawan biasanya berkeliling ke sejumlah sudut Kota Terlarang untuk melakukan sesi foto maupun merekam video. Menariknya, sebagian pengunjung memadukan busana tradisional dengan unsur modern seperti kacamata hitam, sepatu sneakers, atau berpose sambil menikmati minuman bubble tea.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat generasi muda terhadap sejarah dan budaya China, terutama pakaian tradisional, terus meningkat. Di Beijing, kostum yang paling banyak diminati umumnya terinspirasi dari dua dinasti terakhir yang pernah berkuasa, yakni Dinasti Ming dan Dinasti Qing.
Dinasti Ming yang memerintah lebih dari 270 tahun dikenal sebagai penguasa yang membangun Kota Terlarang serta memperkuat Tembok Besar China. Sementara itu, Dinasti Qing yang berasal dari etnis Manchu menjadi dinasti terakhir sebelum berakhirnya sistem kekaisaran di China.
Bendera China (Istimewa)
"Kaum muda Tiongkok telah menemukan daya tarik estetika pakaian tradisional sambil mempelajari warisan budaya Tiongkok yang kaya," ujar Cai Zehong, pendiri Hanfu Beijing yang merupakan salah satu komunitas kostum tradisional tertua di negara tersebut.
Menurut Cai, meningkatnya ketertarikan terhadap busana tradisional juga didorong oleh berkembangnya industri hiburan, terutama drama-drama berlatar sejarah. Pendapat serupa disampaikan Chen yang mengaku sering menonton dracin dan melihat banyak orang tertarik mengenakan kostum kerajaan setelah menyaksikan tayangan tersebut.
Studio tempat Chen bekerja hanyalah salah satu dari banyak usaha serupa yang kini menjamur di sekitar Kota Terlarang. Media lokal melaporkan bahwa pada 2020 hanya ada beberapa studio kostum yang beroperasi di kawasan tersebut, namun jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya permintaan.
Baca Juga: Kuba Terima Bantuan Beras dari China di Tengah Embargo AS
Salah satu wisatawan yang mencoba pengalaman tersebut adalah Liu Ruitong, mahasiswa asal Provinsi Hebei. Ia memilih mengenakan kostum Dinasti Ming berwarna hitam saat berkunjung ke Kota Terlarang.
"Saya rasa penampilan ini terasa sangat elegan dan bermartabat, terutama dalam palet warnanya. Saya memilih hitam karena sangat cocok dengan Kota Terlarang dan pemandangan tradisional Tiongkok pada umumnya," kata Liu.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana popularitas drama China tidak hanya memengaruhi industri hiburan, tetapi juga turut mendorong minat generasi muda terhadap sejarah dan budaya tradisional, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru di sektor pariwisata.
Bendera China (Istimewa)