Ntvnews.id, Beijing - Ketegangan kembali terjadi antara Taiwan dan China setelah kapal penjaga pantai kedua pihak saling menghadang di sekitar Pulau Pratas di Laut China Selatan.
Penjaga pantai Taiwan pada Minggu, 25 Mei 2026, menyatakan insiden itu berlangsung selama dua hari terakhir di wilayah yang disebut sebagai “perairan terlarang” Pratas atau yang juga dikenal sebagai Pulau Dongsha.
"Kedua pihak terlibat konfrontasi verbal yang sengit mengenai kedaulatan lewat radio," demikian pernyataan coast guard Taiwan, seperti dikutip dari AFP, Senin, 25 Mei 2026.
Menurut otoritas Taipei, operator radio dari China memberi tahu kapal patroli Taiwan bernama Taichung bahwa kapal mereka, CCG-3501, sedang menjalankan patroli rutin dan meminta agar tidak diganggu.
Kapal Taiwan kemudian memberikan respons tegas dengan menyatakan, "Perilaku Anda justru membuktikan bahwa perdamaian China adalah tipuan, dan komunitas internasional tidak akan mendukung Anda."
Baca Juga: Taiwan Balas Peringatan Xi ke Trump, Sebut China Ancaman Perdamaian Kawasan
Saat laporan awal disampaikan, kapal Taichung masih terlibat aksi saling hadang dengan kapal CCG-3501 milik China.
Namun beberapa jam kemudian, penjaga pantai Taiwan melaporkan kapal CCG-3501 telah meninggalkan wilayah perairan yang disengketakan tersebut.
Taiwan saat ini menguasai Pulau Pratas, tetapi China juga mengklaim kepemilikan atas pulau itu bersama sebagian besar jalur strategis di Laut China Selatan. Pulau Pratas sendiri berada di bagian utara Laut China Selatan.
Sebelumnya pada Sabtu, 23 Mei 2026, pejabat keamanan Taiwan menyebut China mengerahkan lebih dari 100 kapal angkatan laut, kapal penjaga pantai, serta kapal lainnya di kawasan perairan mulai dari Laut Kuning hingga Laut China Selatan dan Pasifik Barat.
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang bendera nasional Taiwan saat bendera AS berkibar di latar belakang selama demonstrasi untuk merayakan Hari Nasional Taiwan di Tsim Sha Tsui, Hong Kong, China (10/10/2019). (ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmet (Antara)
Pengerahan armada itu dilakukan menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14 Mei lalu.
Trump sebelumnya memicu kekhawatiran di Taiwan setelah menggunakan isu penjualan senjata Amerika Serikat ke Taipei sebagai alat tawar dalam hubungan dengan China. Beijing selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali mengancam akan merebut pulau tersebut jika diperlukan.
Di sisi lain, Taiwan terus menegaskan komitmennya mempertahankan status quo serta menilai China sebagai sumber utama ketidakstabilan di kawasan.
China Taiwan (Istimewa)