Ntvnews.id, Jakarta - Tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwend, mengaku dijebak dan diperdaya sehingga tanpa sepengetahuannya ikut berperan dalam film Pesta Babi.
Perwakilan masyarakat adat Malind Merauke, Papua Selatan ini, memastikan tidak pernah ada tawaran atau permintaan resmi kepadanya untuk berperan dalam film Pesta Babi, sehingga dirinya meminta film tersebut untuk segera dihentikan peredarannya.
“Saya kaget, ditampilkan saya di film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” kata Yasinta, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.
“Saya tidak wawancara, mereka yang buat, mama tidak tahu. Mama tidak kasih izin, untuk buat film itu, saya sumpah demi Tuhan, tidak tahu jam berapa mereka buat film Pesta Babi itu,” lanjutnya.
Yasinta menceritakan, pada awalnya dirinya bersama kelompok masyarakat adat Marind, diajak oleh pria bernama Aris untuk menyuarakan seputar penolakan pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua.
Namun tak disangka, Yasinta mengaku dijebak dan dimanfaatkan untuk terlibat dalam film berjudul Pesta Babi.
Yesinta juga mempertanyakan foto-foto dirinya yang dimuat, bahkan dijadikan ikon film Pesta Babi di poster film yang sudah beredar luas di tengah masyarakat, tanpa pemberitahuan apalagi izin kepadanya.
“Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH," Yasinta.
Yasinta mengaku baru sadar telah dimanfaatkan karena tidak mendapatkan apa-apa dari hasil produksi film, yang hingga saat ini tidak pernah dibicarakan kepadanya.
Apalagi dirinya mengaku sudah ikut enam kali penerbangan pulang pergi Merauke–Jakarta dan tiga kali Merauke–Makassar, dan tidak tahu maksud tujuannya diajak ke Jakarta.
“Saya diajak ke Jakarta 6 kali. Di atas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta, mereka ajak saya demo (Aksi) Kamisan, minta saya bersuara menolak PSN (Proyek Strategis Nasional). Karena terpengaruh, saya ikut saja namun sekarang, saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” jelas Yasinta.
Yasinta Moiwend (lingkaran merah).
Meski sudah ikut enam kali penerbangan pulang pergi Merauke–Jakarta dan tiga kali Merauke–Makassar, Yesinta mengaku tidak pernah diberi bantuan atau uang, dan tidak tahu jika kepergiannya itu dalam rangka pembuatan film Pesta Babi.
Jangankan bantuan perbaikan rumah, Yasinta mengaku telepon seluler yang rusak dan telah meminta untuk dibelikan kepada orang yang mengajaknya bepergian, hingga saat ini belum diterimanya.
"Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH Pusaka," ungkapnya.
“Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta film Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus dihentikan film itu,” pungkas Yasinta.
Salah satu pemeran film dokumenter Pesta Babi, Yasinta Moiwend.