WHO Tetapkan Wabah Ebola di RD Kongo sebagai Darurat Internasional, 131 Orang Tewas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Mei 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - penyakit dan wabah flu. Ilustrasi - penyakit dan wabah flu. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

Ntvnews.id, New York - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus memakan korban jiwa. Sedikitnya 131 orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah tersebut, sementara lebih dari 513 orang lainnya diduga terinfeksi virus mematikan itu.

Selain di RD Kongo, kasus Ebola juga ditemukan di Uganda. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat terdapat dua kasus terkonfirmasi dan satu korban meninggal dunia di negara tersebut.

World Health Organization atau WHO kemudian menetapkan wabah Ebola di RD Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Meski demikian, WHO menegaskan wabah tersebut belum memenuhi kriteria sebagai pandemi global. Organisasi kesehatan dunia itu tetap memperingatkan bahwa wabah berpotensi berkembang jauh lebih besar dibandingkan jumlah kasus yang telah terdeteksi saat ini.

WHO menyebut risiko penyebaran wabah berada pada tingkat lokal dan regional dengan dampak yang dinilai signifikan.

Wabah kali ini dipicu oleh galur Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat yang disetujui secara resmi.

Gejala awal Ebola umumnya meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat mengalami muntah, diare, ruam, hingga perdarahan internal maupun eksternal.

Ebola merupakan penyakit langka namun sangat mematikan yang menyebar melalui cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti darah dan muntahan. Virus ini diyakini berasal dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah.

Baca Juga: Menko AHY Ajak Perkuat Fondasi Persahabatan Indonesia–Singapura

WHO menyebut saat ini terdapat delapan kasus Ebola yang telah dikonfirmasi melalui laboratorium di RD Kongo. Kasus suspek dan korban meninggal tersebar di tiga zona kesehatan, termasuk Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, kota tambang emas Mongwalu, dan Rwampara.

Satu kasus Ebola juga telah dikonfirmasi di Kinshasa, ibu kota RD Kongo. Pasien tersebut diketahui baru melakukan perjalanan dari Provinsi Ituri.

Sementara di Uganda, pejabat setempat melaporkan seorang pria berusia 59 tahun yang meninggal pada Kamis, 14 Mei 2026 dinyatakan positif Ebola. Pemerintah Uganda menyebut korban merupakan warga negara Kongo yang jenazahnya telah dipulangkan ke negaranya.

Selain itu, kantor berita AFP melaporkan satu kasus Ebola juga terkonfirmasi di Kota Goma, wilayah timur RD Kongo yang kini dikuasai kelompok pemberontak M23.

WHO menilai situasi keamanan yang tidak stabil, tingginya mobilitas penduduk, krisis kemanusiaan, hingga banyaknya fasilitas kesehatan informal meningkatkan risiko penyebaran virus ke berbagai wilayah.

Negara-negara yang berbatasan dengan RD Kongo, termasuk Rwanda, dinilai memiliki risiko tinggi terdampak wabah akibat tingginya aktivitas perdagangan dan perjalanan lintas batas.

Pemerintah Rwanda bahkan telah memperketat pemeriksaan di perbatasan dengan RD Kongo sebagai langkah pencegahan. Kementerian Kesehatan Rwanda menyatakan sistem pengawasan kesehatan telah diperkuat dan tim medis disiagakan guna memastikan deteksi dini serta respons cepat.

WHO juga meminta RD Kongo dan Uganda membentuk pusat operasi darurat untuk memantau penyebaran wabah, melakukan pelacakan kasus, serta memperkuat langkah pencegahan infeksi.

Lembaga tersebut menegaskan pasien yang terkonfirmasi Ebola harus segera diisolasi dan dirawat hingga dua kali hasil tes virus menunjukkan negatif dengan jeda minimal 48 jam.

Meski demikian, WHO mengimbau negara-negara di luar wilayah terdampak agar tidak menutup perbatasan atau membatasi perjalanan maupun perdagangan karena langkah tersebut dinilai tidak memiliki dasar ilmiah.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan masih terdapat “ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran wabah tersebut secara geografis”.

Pakar dari Pandemic Sciences Institute Universitas Oxford, Amanda Rojek, mengatakan status darurat kesehatan internasional tidak berarti dunia berada di ambang pandemi seperti Covid-19.

"Namun hal ini mencerminkan bahwa situasinya cukup kompleks sehingga memerlukan koordinasi internasional," kata Amanda Rojek.

Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi RD Kongo dan sejak saat itu telah menyebabkan 17 wabah di negara tersebut.

Wabah Ebola paling mematikan di RD Kongo terjadi pada 2018 hingga 2020, ketika hampir 2.300 orang meninggal dunia. Secara keseluruhan, sekitar 15.000 orang telah meninggal akibat virus Ebola di berbagai negara Afrika selama 50 tahun terakhir.

x|close