Ntvnews.id, Jakarta - Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Herman Khaeron
Menurut Herman, industri padat karya memiliki kontribusi besar dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Ia mencontohkan industri rokok yang mampu menyerap ratusan hingga ribuan tenaga kerja dalam satu pabrik.
Herman mengaku melihat langsung proses produksi rokok yang melibatkan hampir 1.000 pekerja di satu lokasi pabrik. Karena itu, ia menilai keberadaan industri tersebut perlu dijaga, terutama karena berperan besar dalam menyerap tenaga kerja lokal.
"Ketika kemudian ada semangat ingin membangun bangsa dari industri padat karya yang juga memberikan sumbangan terhadap fiskal negara, negara juga harus bisa menjaganya dari sisi-sisi lain," kata Herman dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca Juga: Viral Salah Kasih Nilai, DPR Minta Juri Cerdas Cermat MPR Di-Blacklist
Ia menilai industri hasil tembakau saat ini menghadapi tekanan akibat regulasi yang semakin ketat. Padahal, menurutnya, sektor tersebut memiliki peran penting dalam menopang perekonomian sekaligus meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
"Kita harus mendukung industri terus tumbuh dan berkembang di Indonesia," jelas politisi Partai Demokrat tersebut.
Herman juga menyoroti kontribusi industri hasil tembakau terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai. Selain itu, terbukanya lapangan kerja dinilai dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat konsumsi publik yang menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia turut menekankan pentingnya menjaga daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk berkualitas dan menembus pasar internasional, termasuk memperkuat ekspor Indonesia.
Baca Juga: Ketua DPRD Jember Minta Maaf Usai Anggotanya Viral Main Game dan Merokok Saat RDP
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026, sektor industri pengolahan tercatat menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya salah satu sektor terbesar dalam struktur ekonomi nasional.
Industri pengolahan sendiri mencakup berbagai aktivitas pengolahan bahan baku menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi, mulai dari makanan dan minuman, tekstil, tembakau, furnitur, logam dasar, kendaraan, barang elektronik, hingga mesin dan perlengkapan.
Menurut Herman, rantai pasok industri pengolahan juga memiliki dampak luas terhadap perekonomian daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja, kebutuhan bahan baku, logistik, investasi, hingga konsumsi masyarakat.
Meski demikian, ia mengakui industri rokok saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk maraknya peredaran rokok ilegal. Herman menilai negara harus hadir untuk melindungi industri legal yang telah mematuhi aturan pemerintah.
Baca Juga: Kata Ketua DPR soal TNI Larang Nobar Film Pesta Babi
Ia menyebut rokok ilegal tidak hanya merugikan negara karena tidak menyumbang pajak dan cukai, tetapi juga tidak memiliki standar kualitas yang jelas.
Karena itu, Herman meminta pemerintah memperkuat penegakan hukum terhadap peredaran rokok ilegal.
Dia pun mendesak pemerintah agar adanya penegakan hukum atau law enforcement tegas dan keras terhadap peredaran rokok ilegal. Ia berpendapat upaya menjaga ruang industri rokok akan menjadi kontraproduktif jika peredaran produk ilegal tetap marak di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Herman menyoroti bahwa pemulihan industri pengolahan belum merata. Salah satu subsektor yang masih mengalami tekanan adalah industri pengolahan tembakau yang pada kuartal I-2026 tercatat mengalami kontraksi 4,05 persen secara tahunan, setelah sebelumnya juga terkontraksi 4,97 persen pada kuartal sebelumnya.
Ia pun meminta pemerintah memastikan industri legal yang telah memenuhi seluruh regulasi tetap memperoleh perlindungan dan kepastian untuk terus beroperasi di tengah persaingan dengan produk ilegal.
Herman Khaeron (Istimewa)