Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak mengolah menu mi apabila belum memiliki juru masak yang benar-benar andal.
Langkah tersebut dilakukan guna mencegah terjadinya kasus keracunan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan itu disampaikan Nanik setelah melakukan inspeksi mendadak ke dapur MBG di Jakarta Timur pada Minggu, 10 Mei 2026.
Baca Juga: BGN Hentikan Sementara 240 SPPG karena Belum Penuhi Standar
Dapur tersebut diketahui menjadi lokasi pengolahan makanan yang diduga menyebabkan 147 anak mengalami gangguan pencernaan pada Jumat, 08 Mei 2026 malam.
“Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah,” ujar Nanik dalam unggahan Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Nanik menjelaskan, pada Jumat, 08 Mei 2026 para siswa mengalami gangguan pencernaan usai menyantap menu bakmie Djawa yang disajikan bersama ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, serta buah semangka.
“Minggu malam saya sidak ke dapur yang mengolah MBG dan menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan di Jakarta Timur, dimana 33 diantaranya sempat dirawat, namun hari Senin, 11 Mei 2026 kemarin sudah pulang semua,” kata dia.
Menurut Nanik, selama Program MBG berjalan selama sekitar 1,5 tahun di Jakarta, tercatat sudah terjadi 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan.
Baca Juga: BGN Minta Seluruh SPPG Tambah Penerima Manfaat Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita dalam 2 Pekan
Dari jumlah tersebut, tujuh kasus di antaranya dipicu oleh menu berbahan dasar mi.
“Agak kaget waktu dikabari menu mi lagi yang dipakai, karena sebulan sebelumnya di Jakarta Timur juga menu spaghetti menjadi penyebab beberapa anak gangguan perut, bahkan sempat ada yang dirawat di rumah sakit yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan mi basah atau mi kuning segar memang memiliki risiko tinggi karena mudah basi akibat kandungan air yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat makanan menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme yang dapat memicu gangguan kesehatan apabila tidak diolah dengan benar.
(Sumber: Antara)
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang. ANTARA/Fathur Rochman. (Antara)