Kemenkes Tangani 333.470 Kasus ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 22:17
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr dr Ten Suyanti memberikan penjelasan terkait perkembangan penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kantor BNPB Pusat, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr dr Ten Suyanti memberikan penjelasan terkait perkembangan penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kantor BNPB Pusat, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu oleh dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah terdampak kini telah menembus angka 333.470 kasus.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Ten Suyanti, saat ditemui di Jakarta pada Kamis (22/10), menyampaikan bahwa dari total angka kumulatif tersebut, penambahan penderita harian tercatat masih berada di kisaran 4.522 kasus.

“Perhatian khusus juga difokuskan pada kelompok rentan yang meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja di luar ruangan,” ujar Ten Suyanti.

Berdasarkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terkini, kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan telah memburuk hingga berada pada kategori berbahaya, khususnya yang tersebar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Kemenkes merinci bahwa di Kalimantan Tengah terdapat tujuh kabupaten/kota yang masuk dalam kategori berbahaya. Kondisi serupa juga terdeteksi di tiga wilayah Sumatera Selatan yakni Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir serta satu wilayah berstatus sangat tidak sehat di Ogan Ilir.
 

Kualitas udara dengan kategori berbahaya juga terpantau di dua wilayah Jambi, yaitu Muaro Jambi dan Tebo, sementara Tanjung Jabung Timur tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat. Di Kalimantan Selatan, status kategori berbahaya melanda Kota Banjarmasin dan Tabalong, disusul Barito Kuala pada kategori sangat tidak sehat.

Selain itu, status udara berbahaya turut tercatat di Kutai Barat (Kalimantan Timur) dan Kota Pontianak (Kalimantan Barat), sementara Provinsi Riau mencatat empat wilayah dengan status kualitas udara sangat tidak sehat.

Ten Suyanti memaparkan bahwa paparan pekatnya asap karhutla mengandung berbagai partikel halus berbahaya seperti PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta beragam senyawa organik yang berisiko tinggi memicu gangguan kesehatan serius. Dampak tersebut meliputi ISPA, serangan asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), iritasi berat pada mata dan kulit, hingga gangguan kesehatan sistemik lainnya.

Menyoroti perbandingan tren kasus dari tahun ke tahun, Kemenkes mencatat adanya lonjakan kasus ISPA di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, serta Riau yang terpantau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Kendati demikian, tren kasus di Kalimantan Barat justru menunjukkan adanya penurunan, wilayah Kalimantan Timur terpatat relatif stabil, sementara Jambi berada pada kondisi yang kurang lebih setara dengan tahun lalu.
 

Sebagai langkah nyata untuk mengantisipasi serta menanggulangi krisis kesehatan tersebut, Kemenkes terus menggenjot strategi promotif dan preventif secara masif. Upaya ini mencakup pembagian masker gratis kepada masyarakat, edukasi publik terkait pengurangan risiko kesehatan akibat krisis lingkungan, hingga pelaksanaan surveilans ketat terhadap kualitas udara dalam ruangan serta pemantauan dampak kesehatan di permukiman warga.

“Pemerintah aktif memantau tren penyakit akibat karhutla seperti ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit, sekaligus memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai (BMHP), dan alat kesehatan yang memadai di daerah terdampak,” pungkasnya menegaskan.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close