Ntvnews.id, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih mendata kebutuhan bantuan dari negara lain untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Langkah ini dilakukan agar bantuan yang diterima sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kepala BNPB Kristomei Sianturi mengatakan sejumlah negara telah menyampaikan tawaran bantuan untuk memadamkan karhutla, di antaranya Singapura dan Malaysia. Namun, pemerintah perlu mengidentifikasi terlebih dahulu jenis bantuan yang dibutuhkan sebelum menerima tawaran tersebut.
"Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi kebutuhan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alat itu tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran," kata Kristomei seusai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026 malam.
Ia mengungkapkan, Singapura telah mengirimkan surat penawaran bantuan berupa masker, air minum, serta penggunaan pesawat Hercules C-130 untuk mendukung penanganan karhutla.
Meski demikian, Kristomei menilai Indonesia tidak perlu menerima bantuan berupa peralatan yang sebenarnya sudah dimiliki dan dapat digunakan sendiri. Salah satunya adalah pesawat Hercules C-130 yang telah tersedia di Indonesia.
Baca Juga: Usai Dilantik, Kristomei: Kita Harus Bekerja Sama, Tidak Bisa BNPB Sendiri
"Tapi kalau kita punya, kenapa harus kita minta? Contoh kalau pesawat Hercules, negara lain menawarkan pesawat C-130, lah kita juga ada, tidak efektif kita gunakan. Kenapa harus kita pinjam," ujar Kristomei menambahkan.
Kristomei menyebut proses pendataan kebutuhan bantuan tersebut akan dilakukan secepat mungkin. Hal ini bertujuan agar dukungan yang diperlukan dapat segera melengkapi upaya pemadaman karhutla di sejumlah wilayah.
Pemerintah juga berupaya mempercepat penanganan kebakaran dengan memanfaatkan berbagai inovasi, termasuk penggunaan dry ice dan cairan khusus pemadam api.
Dry ice dimanfaatkan dalam operasi modifikasi cuaca (OMC), terutama untuk membantu mengurai asap akibat karhutla. Sementara itu, cairan Realiza Anti Chamas dari Brasil telah menjalani uji coba di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan.
Cairan tersebut berasal dari serbuk yang dilarutkan ke dalam air, kemudian disemprotkan ke titik api untuk membantu menghambat penyebaran kebakaran. Penggunaan berbagai teknologi ini diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat pemadaman karhutla di Indonesia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi (NTVnews)