Waspada Serangan Asma Akut Bagi Penderita Asma saat Terpapar Asap Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Agu 2026, 16:03
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Siak IV yang dipenuhi kabut asap di Pekanbaru, Riau, Senin, 24 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Riau menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruang serta menggunakan masker kesehat Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Siak IV yang dipenuhi kabut asap di Pekanbaru, Riau, Senin, 24 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Riau menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruang serta menggunakan masker kesehat (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Penderita penyakit pernapasan, terutama asma, perlu mewaspadai risiko serangan asma akut ketika terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan penderita asma sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan jenis dan dosis obat yang sesuai.

“Konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat. Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” kata Prof Tjandra di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Tjandra, penderita asma yang berada di tengah paparan asap karhutla perlu menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai dengan anjuran dokter.

Selain itu, obat reliever dapat digunakan apabila diperlukan, terutama ketika muncul gejala seperti sesak napas.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung sejumlah zat yang dapat mengganggu kesehatan. Salah satunya adalah partikel halus berukuran 2,5 mikron atau PM2.5 yang ketika terhirup dapat memicu inflamasi atau peradangan.

Baca juga: 3 Juta Warga Terpapar Asap Karhutla di 7 Provinsi, Menkes Imbau Penggunaan Masker

Asap kebakaran hutan juga mengandung gas seperti nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, serta berbagai bahan organik yang berasal dari pembakaran pohon dan tanaman. Campuran zat tersebut dapat membentuk senyawa toksik yang berisiko bagi kesehatan manusia.

Tjandra mengatakan paparan asap karhutla dapat menimbulkan sejumlah gangguan pernapasan. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk, batuk berdahak, sesak napas, hingga nyeri dada.

“Dampak (paparan asap karhutla) akut seperti terjadi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.

Selain memberikan dampak langsung terhadap kesehatan, kebakaran hutan dengan intensitas tinggi juga dapat menghambat akses masyarakat menuju layanan kesehatan di wilayah terdampak.

“Kalau kebakaran hutan yang tinggi intensitasnya, di area yang luas dan berlangsung cukup lama akan berdampak pada transportasi di daerah terdampak, juga kesediaan air bersih, gangguan komunikasi dan sumber daya pula,” imbuh dia.

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat asap karhutla, Tjandra menyarankan masyarakat menghindari lokasi kebakaran yang masih aktif apabila kondisi memungkinkan.

Baca juga: Mensesneg Sebut Karhutla di 4 Provinsi Sumatra Relatif Terkendali

Ia juga mengimbau masyarakat mengurangi perjalanan yang tidak mendesak dan menggunakan masker dengan perlindungan yang baik. Jika harus berada di sekitar wilayah yang terdampak kebakaran, penggunaan respirator dapat dipertimbangkan.

“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” tutur Tjandra.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close