Ntvnews.id, Jakarta - Buang angin merupakan hal yang normal dalam proses pencernaan. Namun, jika kentut terjadi terus-menerus dan mengeluarkan bau yang menyengat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem pencernaan.
"Umumnya kentut yang tidak berbau merupakan bagian normal dari proses pencernaan," kata dokter ahli gastroenterologi dan hepatologi Rucha Shah sebagaimana dikutip dalam siaran Eating Well pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut ahli kesehatan pencernaan, produksi gas yang berlebihan, terjadi terus-menerus, atau memiliki bau tidak sedap dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan.
Ahli diet Sarah Glinski menjelaskan bahwa kondisi yang mengganggu kemampuan tubuh dalam mencerna makanan atau menyerap nutrisi tertentu dapat menyebabkan produksi gas berlebih.
"Karena komponen makanan yang tidak tercerna sering kali difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar," katanya.
Fermentasi tersebut dapat menghasilkan gas dalam jumlah berlebih maupun berbau menyengat. Kondisi ini juga dapat disertai perut kembung dan rasa tidak nyaman.
Dokter spesialis gastroenterologi Supriya Rao mengatakan gangguan dalam penyerapan jenis karbohidrat tertentu juga dapat memicu produksi gas berlebih.
Karbohidrat yang tidak tercerna akan difermentasi oleh bakteri ketika mencapai usus besar. Proses tersebut dapat menyebabkan perut kembung dan buang angin dengan bau yang lebih kuat.
Dokter spesialis gastroenterologi Latha Alaparthi menambahkan bahwa sejumlah makanan yang sulit dicerna, seperti gula alkohol dan beberapa pemanis buatan, dapat mengalami fermentasi di usus sehingga memicu pembentukan gas pada sebagian orang.
Baca Juga: 4 Dampak Buruk Terlalu Sering Tahan Kentut
Selain itu, gangguan pada fungsi pencernaan juga dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan mikrobioma usus atau disbiosis. Kondisi tersebut terjadi ketika jumlah mikroba baik berkurang dan mikroba yang berpotensi mengganggu berkembang secara berlebihan.
"Ketidakseimbangan ini dapat memicu penguraian protein yang tidak tercerna di usus besar, yang menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida," kata Glinski.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan produksi gas berlebih dan membuat kentut memiliki bau yang lebih menyengat.
Ahli gizi Ashley Oswald mengatakan disbiosis dapat meningkatkan produksi gas, memperkuat bau kentut, menyebabkan perut kembung, hingga mengubah pola buang air besar akibat perubahan proses fermentasi dalam tubuh.
Disbiosis dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain penggunaan antibiotik, pola makan rendah serat, stres kronis, infeksi pada usus, kualitas tidur yang buruk, penggunaan obat tertentu, kondisi kesehatan kronis, serta gangguan peradangan pada usus.
Gangguan lain yang juga dapat meningkatkan produksi gas adalah small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), yakni kondisi ketika bakteri tumbuh secara berlebihan di usus kecil.
Menurut Oswald, produksi gas berlebih yang disertai kembung kronis, terutama sekitar 30 menit hingga tiga jam setelah makan, dapat menjadi salah satu tanda SIBO.
Pada kondisi tersebut, bakteri yang umumnya lebih banyak berada di usus besar dapat berada di usus halus dan memfermentasi karbohidrat sebelum nutrisi tersebut sempat diserap tubuh.
Baca Juga: Menghirup Bau Kentut Ternyata Memiliki Manfaat untuk Kesehatan, Begini Kata Ahli
Fermentasi oleh mikroba di usus halus kemudian menghasilkan hidrogen, metana, dan sejumlah gas lainnya. Glinski mengatakan kandungan hidrogen sulfida yang tinggi dapat membuat kentut memiliki aroma menyerupai telur busuk.
Shah juga menjelaskan bahwa intestinal methanogen overgrowth (IMO), salah satu bentuk disbiosis yang ditandai pertumbuhan berlebih mikroba penghasil metana di saluran pencernaan, dapat menyebabkan produksi gas meningkat.
Berbeda dari SIBO, IMO disebabkan oleh arkea dan dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan, menurut Oswald dan Shah.
Jika seseorang sering mengalami kentut berbau menyengat yang disertai gejala seperti perut kembung menetap, nyeri perut, diare, atau sembelit, Oswald menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Langkah tersebut diperlukan agar penyebab yang mendasari keluhan dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Gangguan pencernaan (Antara)