Ntvnews.id, Jakarta -Garam Himalaya dan garam laut (sea salt) kerap dianggap sebagai alternatif yang jauh lebih sehat dibandingkan garam meja biasa karena kandungan mineral alaminya. Namun, perbedaan kandungan pada kedua jenis garam tersebut dinilai tidak memberikan dampak besar bagi kesehatan tubuh secara signifikan.
Kendati demikian, kadar mineral alami dalam kedua jenis garam tersebut tergolong sangat kecil untuk bisa membawa manfaat kesehatan nyata, jika mengacu pada batas konsumsi harian yang aman. Satu sendok teh garam saja sudah mengandung natrium yang mendekati atau bahkan melebihi batas ideal 1.500 miligram per hari khususnya bagi penderita hipertensi.
Dari segi asal-usul, garam Himalaya diekstraksi dari tambang garam bawah tanah, sedangkan garam laut diproduksi dari penguapan air laut secara alami menggunakan bantuan sinar matahari dan angin.
Baca juga: KPI dan PT Garam Jajaki Kerja Sama Produksi Garam di Balikpapan
Proses pengolahan keduanya relatif minim. Garam Himalaya umumnya memunculkan warna merah muda khas akibat kandungan oksida besi, sementara garam laut berwarna putih hingga sedikit abu-abu dari mineral bawaannya.
Satu hal yang kerap luput dari perhatian konsumen adalah potensi kontaminasi pada masing-masing produk. Garam Himalaya berisiko mengandung jejak logam seperti aluminium, barium, silikon, hingga timbal. Di sisi lain, garam laut berpotensi terpapar mikroplastik akibat dampak pencemaran ekosistem laut.
Selain itu, baik garam Himalaya maupun garam laut bukanlah sumber yodium yang optimal. Berbeda dari garam meja yang umumnya telah difortifikasi yodium untuk mencegah gangguan fungsi tiroid, pemenuhan zat ini dari garam non-fortifikasi harus dibantu asupan harian lain seperti ikan, rumput laut, dan telur.
Dengan demikian, keputusan memilih antara garam Himalaya atau garam laut lebih tepat didasarkan pada selera rasa dan gaya memasak, ketimbang persepsi bahwa salah satunya jauh lebih sehat. Kunci utamanya tetap terletak pada kontrol dan pembatasan asupan garam harian.
Petani mengolah garam beryodium di Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah, Rabu (5/8/2026). Sejumlah petani garam di kawasan tersebut berupaya menjaga dan menstabilkan harga garam krosok saat panen raya di tengah anjloknya harga di tingkat petani dari sekitar Rp250 ribu menjadi Rp60 ribu per kuintal dengan meningkatkan kualitas kristal garam, menunda penjualan melalui penyimpanan stok di gudang, memperkuat kelembagaan koperasi agar tidak bergantung pada tengkulak, serta mengolah garam krosok menjadi garam beryodium untuk meningkatkan nilai tambah. (Antara)