Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tingkat global. Hal tersebut disampaikan Nezar melalui unggahan di akun Instagram resminya @sira.nezar pada Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam penjelasannya, Nezar menyoroti bagaimana selama ini pembahasan mengenai AI sering kali identik dengan negara-negara maju, khususnya kawasan teknologi di Amerika Serikat seperti Silicon Valley. Namun menurutnya, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan Global South juga mampu mengambil peran penting dalam industri teknologi tersebut.
"Selama ini kalau ngomongin AI, pikiran kita pasti langsung terbang ke Silicon Valley atau negara-negara maju di belahan Utara. Tapi, ada satu fakta menarik yang banyak SoBi Digital belum ketahui, India baru saja membuktikan kalau negara Global South bisa menyalip di tikungan cuma dalam waktu 3 tahun untuk jadi tuan rumah AI Summit," ujar Nezar dalam unggahannya.
Ia pun mempertanyakan mengapa Indonesia tidak bisa mengikuti jejak tersebut.
"Kalau India bisa, kenapa kita enggak?" lanjutnya.
Nezar menjelaskan bahwa kunci dari perkembangan teknologi AI tidak hanya terletak pada penguasaan perangkat lunak seperti kode dan algoritma. Menurutnya, faktor fisik berupa sumber daya alam juga memegang peranan penting dalam mendukung ekosistem teknologi tersebut.
"Rahasianya bukan cuma di barisan kode atau algoritma, tapi di tanah yang kita pijak," jelasnya.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026, PLN Siapkan Posko Siaga 24 Jam dan SPKLU di Jalur Jawa–Bali
Ia mengingatkan bahwa pengembangan AI membutuhkan infrastruktur fisik yang kuat, termasuk industri semikonduktor yang sangat bergantung pada ketersediaan mineral kritis. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis.
"Kita sering lupa kalau kecerdasan buatan itu butuh 'fisik'. Infrastruktur AI dan industri semikonduktor butuh banget yang namanya critical minerals. Kabar baiknya? Indonesia adalah 'gudang'-nya," kata Nezar.
Karena itu, ia menilai strategi pembangunan industri digital Indonesia ke depan tidak boleh lagi bertumpu pada ekspor bahan mentah semata. Pemerintah perlu mendorong hilirisasi agar nilai tambah dari sumber daya alam dapat dinikmati di dalam negeri.
"Strategi kita ke depan bukan lagi soal jual tanah air mentah-mentah ke luar negeri, tapi tentang Hilirisasi," ujarnya.
Nezar memaparkan dua langkah utama dalam strategi tersebut.
View this post on Instagram
"Pertama, kita nggak cuma ekspor bahan mentah, tapi kita bangun industrinya di sini," jelasnya.
"Kedua, kita nggak cuma mau jadi pembeli chip, tapi jadi bagian dari rantai pasok dunia yang bikin AI itu bernapas," tambahnya.
Meski demikian, Nezar mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup. Indonesia juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti kebutuhan industri masa depan.
"Bukan cuma soal mineral, kita punya dua PR besar lainnya yang harus dikerjakan bareng-bareng yaitu, Skill kita harus relevan sama kebutuhan industri masa depan, dan tentunya Memperkuat infrastruktur AI hasil karya anak bangsa," ungkapnya.
Baca Juga: Donald Trump Tak Khawatir Isu Ancaman Drone Iran ke California
Ia menilai momentum untuk memperkuat ekosistem AI nasional saat ini sedang terbuka lebar. Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat, Indonesia diyakini dapat mengambil peran lebih besar dalam ekonomi digital global.
"Momentumnya ada sekarang. Kalau kita bisa kolaborasi buat mengolah kekayaan alam sekaligus asah otak, Indonesia nggak bakal cuma jadi market, tapi jadi leader," tuturnya.
Di akhir pesannya, Nezar mengajak masyarakat untuk ikut mengawal perkembangan transformasi digital di Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
"Ayo kita kawal bareng-bareng kemajuan digital Indonesia, SoBi Digital!" pungkasnya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria dalam temu media usai menghadiri acara AI Pre-Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026. ANTARA/Sri Dewi Larasati. (Antara)