Harga Minyak Dunia Melonjak, Purbaya Buka Opsi Naikkan BBM Subsidi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 18:00
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka opsi dari pengendalian belanja yang tidak produktif hingga kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika harga minyak dunia terus melonjak. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka opsi dari pengendalian belanja yang tidak produktif hingga kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika harga minyak dunia terus melonjak. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka opsi dari pengendalian belanja yang tidak produktif hingga kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika harga minyak dunia terus melonjak.

Dalam hal ini, Purbaya menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dipotong anggarannya. 

Menurutnya pemerintah hanya akan melakukan evaluasi agar penggunaan anggaran benar-benar efektif dan efisien.

“Jadi MBG nggak akan dipotong. Kecuali yang nggak produktif. Ya kita lihat aja. Kalau dia ngajuin beli motor lagi, coret. Beli komputer lagi, coret. Yang nggak perlu-perlu, yang nggak berhubungan dengan makanan,” ucap Purbaya di Tanah Abang, Senin 9 Maret 2026.

Baca juga: Purbaya: Belum Ada Rencana Naikkan Harga BBM Subsidi

Menurutnya, pemerintah terus melakukan evaluasi agar setiap belanja pemerintah benar-benar mendukung program Utama Presiden Prabowo Subianto.

"Kalau MBG kan kita lihat terus dari waktu ke waktu. MBG nggak kita potong anggarannya. Tapi kita pastikan yang dibelanjakan betul-betul efektif dan efisien," bebernya.

Terkait penyesuaian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Purbaya menjelaskan bahwa stok energi sebenarnya masih dalam kondisi aman. 

"Setiap saat kita menyetok (BBM) sekian puluh hari. Kalau nggak salah 15 hari lebih ya. Ini kan stoknya 20 hari berarti berlebih, bukan habis," jelas Purbaya. 

"Itu stok yang normal, bukan darurat. Ada yang bilang kita tinggal 20 hari lagi. Bukan begitu, kalau distok setahun kan rugi. Ada costnya. Jadi strateginya seperti itu sudah optimal itu," lanjutnya.

Purbaya juga mengakui bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi. 

Namun ia menekankan bahwa pemerintah masih akan memantau perkembangan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan sebelum mengambil keputusan.

"Akan naik otomatis (BBM subsidi) tapi kan asumsi kita kan setahun penuh. Kalau sekarang USD100 per barel abis itu jatuh ke USD50 per barel rata-ratanya kan bisa sama dengan kemarin," jelasnya.

Baca juga: Purbaya Soal Dolar Tembus Rp17 Ribu-IHSG Anjlok: Sebagian Ekonom Bilang RI Resesi

Ia meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan dampak lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal negara.

"Jadi jangan terlalu cepat-cepat judge ini judge itu. Kita lihat kondisi seperti apa, nanti setelah sebulan kita prediksi harga minyak seperti apa sehingga kita bisa ngambil kebijakan yang pas," paparnya.

Meski demikian, Purbaya memastikan hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi.

"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM. Dalam pengertian naikin harga BBM," tandasnya.

x|close