Ntvnews.id, Jakarta - Pelaksana Tugas Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Putu Rahwidhiyasa, memaparkan capaian ekspor produk halal Indonesia yang terus menunjukkan tren kenaikan dalam dua tahun terakhir. Namun, ia mengakui posisi Indonesia masih belum menjadi produsen nomor satu di industri halal global.
Berbicara dalam forum Nusantara Sharia Economic Forum (
“Kembali ke SGIE (State of the Global Islamic Economy) Report tadi kita no 3 selama dua tahun terakhir. sebenernya itu ada upaya yang sangat besar dari kita bersama, walaupun memang cuannya itu belum kelihatan sekali,” ujarnya.
Dari sisi kinerja perdagangan, ia menyebut ekspor produk halal Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Pada 2024, nilai ekspor tercatat sebesar US$53 miliar, lalu meningkat menjadi US$63 miliar pada 2025. Di saat yang sama, impor produk halal semakin menurun.
Baca Juga: NUSHAF 2026, Dirut Nusantara TV Randy Tampubolon Dorong Ekonomi Syariah Tak Berhenti di Slogan
“Tapi dari sisi kegiatan ekonomi syariah di Indonesia, dinas standar mengakui Indonesia mengalami pertumbuhan yg sangat baik, dari sektor ekspor produk halal dan impornya semakin turun. Itu menunjukkan produk halal kita semakin banyak diekspor ke luar negeri,” katanya.
Putu mengungkapkan, salah satu faktor penting dalam kenaikan peringkat Indonesia di SGIE adalah pembenahan data dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga. Ia mencontohkan pada 2019 Indonesia belum masuk 10 besar karena keterbatasan data publikasi.
“Waktu itu tahun 2019, kami melihat SGEE ini sangat signifikan untuk menjadi indikator bersama. apa sih yang mereka nilai? Kenapa Indonesia tidak masuk 10 besar? Mereka menilai berdasarkan data publikasi. Lalu kami suplai dengan data-data yang memang riil dilakukan oleh Indonesia. Kami kerja sama dengan seluruh kementerian dan lembaga, hanya dengan memperbaiki datanya," ucap Putu.
"Lalu dari 11, kita dapat nomor 5 setelah perbaikan data. Setelah dari nomor 5, tahun 2020 kita ada banyak kegiatan dari kementerian dan lembaga tentang pengembangan ekonomi syariah yang lebih terstruktur. Akhirnya naik menjadi nomor 4 selama tiga tahun berturut-turut,” paparnya.
Ia menambahkan, selisih poin Indonesia dengan Arab Saudi di posisi kedua kini hanya terpaut satu poin. Namun, jarak dengan Malaysia masih cukup lebar, terutama di sektor keuangan syariah karena Malaysia lebih dulu mengembangkan industri tersebut.
“Selisihnya dengan Arab Saudi di posisi 2 tinggal satu poin. Dengan Malaysia kita jauh di Islamic finance. Mereka sudah lahir lebih dulu. Selisihnya masih cukup besar dengan kita,” ujar Putu.
Ke depan, KNEKS mendorong percepatan di sektor-sektor unggulan lain, termasuk pariwisata ramah muslim yang dinilai masih perlu akselerasi.
“Kita mencoba mengupayakan tumbuhnya sektor-sektor unggulan. Nah, pariwisata ramah muslim tadi itu masih harus ada percepatan,” katanya.
Diskusi di NUSHAF 2026. (Ntvnews/Dedi)