Masruroh: Wisata Ramah Muslim Bukan Soal Labelisasi, Tapi Strategi Menangkap Pasar Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mar 2026, 17:16
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Diskusi di NUSHAF 2026. Diskusi di NUSHAF 2026. (Ntvnews/Dedi)

Ntvnews.id, Jakarta - Nusantara Sharia Economic Forum yang digelar di Nusantara Studio, Rabu (4/3/2026), menjadi ruang diskusi penting tentang arah ekonomi syariah nasional. Di antara para pembicara, sorotan tertuju pada Masruroh, Staf Ahli Menteri Pariwisata, yang menekankan urgensi pembenahan persepsi dalam pengembangan wisata ramah muslim di Indonesia.

Menurut Masruroh, persoalan utama Indonesia bukan pada potensi, melainkan pada cara memposisikan diri dalam peta pasar global. Dari sisi pariwisata, Indonesia berada di sektor hilir, yakni memastikan destinasi, layanan, hingga fasilitas pendukung telah sesuai dengan prinsip syariah dan kebutuhan wisatawan muslim.

Masruroh mengungkapkan, potensi pasar wisata muslim dunia terus meningkat signifikan. Hingga 2030, jumlah wisatawan muslim global diproyeksikan mencapai 245 juta orang. Angka ini menjadi peluang besar yang tidak boleh diabaikan.

Namun demikian, ia menilai masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan, terutama terkait penyamaan persepsi di kalangan pelaku usaha dan masyarakat.

“Wisata ramah muslim ini adalah market yang harus kita raih. Ini persoalan bisnis,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pengembangan wisata ramah muslim bukanlah upaya “mengislamkan” destinasi wisata, melainkan strategi untuk memenuhi kebutuhan segmen pasar tertentu yang pertumbuhannya sangat pesat.

Baca Juga: Babe Haikal: 57 Juta Pelaku Usaha Belum Masuk Sistem Halal, Potensi Ekonomi Terlewat

Masruroh juga mengingatkan bahwa prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin justru bersifat universal. Artinya, ketika sebuah destinasi memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, mulai dari makanan halal, fasilitas ibadah, hingga kebersihan dan kenyamanan, secara otomatis standar tersebut juga akan memenuhi kebutuhan wisatawan secara umum.

“Ketika kita memenuhi kebutuhan muslim, sebenarnya kita juga memenuhi kebutuhan wisatawan pada umumnya,” ujarnya.

Dalam konteks global, indikator seperti Global Muslim Travel Index (GMTI) menjadi tolok ukur penting untuk melihat daya saing sebuah negara dalam menarik wisatawan muslim. Namun Masruroh menilai, keberhasilan bukan hanya soal peringkat, melainkan konsistensi membangun ekosistem yang inklusif dan berdaya saing.

Masruroh menyoroti bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun narasi yang tepat. Wisata ramah muslim harus dipahami sebagai perluasan pasar (market expansion), bukan pembatasan segmen.

Jika persepsi ini berhasil dibangun, Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia serta kekayaan alam dan budaya yang beragam memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi utama wisata muslim global.

Ia optimistis, dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Indonesia bukan hanya menjadi pasar wisata muslim terbesar, tetapi juga pusat destinasi ramah muslim dunia.

“Ini bukan soal simbol, ini soal strategi,” pungkas Masruroh.

x|close