Pakar Transisi Energi: Peran PGE Vital dalam Upaya Kemandirian Energi Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jun 2026, 19:44
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Armada MT Pertamina Halmahera. (ANTARA/HO-Pertamina Patra Niaga) Armada MT Pertamina Halmahera. (ANTARA/HO-Pertamina Patra Niaga) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Retno Gumilang Dewi, mengatakan bahwa peralihan dari energi fosil ke energi bersih sudah harus dipercepat demi mewujudkan kemandirian energi nasional. Retno menyebut, Indonesia memiliki kekayaan sumber energi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, salah satunya panas bumi.

“Di tengah disrupsi geopolitik global, setiap negara kini berusaha mengamankan energinya sendiri. Indonesia beruntung memiliki sumber daya panas bumi yang besar. Ini menjadi modal penting agar transisi energi tetap berjalan tanpa mengorbankan ketahanan energi nasional,” kata Retno, baru-baru ini di sebuah forum diskusi di Jakarta, Selasa (19/05/2026).

Dalam memanfaatkan potensi energi ini, Retno menyebut peran vital PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) sebagai badan usaha yang sudah berhasil menjalankan eksplorasi. Retno menyebut bahwa dengan memperkuat PGE, Indonesia berada di jalur yang tepat menuju kemandirian energi.

Meski begitu, Retno menekankan bahwa transisi energi harus dilakukan secara bertahap. Dengan kata lain, tidak dapat langsung mendadak secara menyeluruh. Ini dikarenakan energi fosil masih memegang peranan besar dalam menjaga keamanan pasokan selama masa peralihan.

“Jika perpindahan energi dilakukan secara mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Transisi harus dilakukan bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” ucap Retno.

Tantangan besar transisi energi menurut Senior Fellow SC UPER ini adalah sektor transportasi. Retno menilai sektor transportasi memiliki kompleksitas yang cukup tinggi dalam proses transisi karena membutuhkan kesiapan teknologi, infrastruktur, hingga pasokan energi alternatif.

"Untuk kendaraan massal dan angkutan berat, perpindahan langsung dari BBM ke listrik tidak semudah kendaraan pribadi. Beban operasional, efisiensi energi, serta kesiapan ekosistem masih menjadi tantangan utama. Karena itu, penggunaan gas, biofuel, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) tetap perlu berjalan beriringan," ujarnya.

Retno menambahkan pentingnya kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara target penurunan emisi dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Menurutnya, target Net Zero Emission 2060 tetap membutuhkan tahapan transisi yang realistis, termasuk menjaga keberlangsungan energi fosil dalam periode tertentu sambil mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Retno melihat pemerintah juga terus mendorong bauran EBT melalui berbagai kebijakan nasional. Sementara itu, energi panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menyediakan energi secara stabil dalam jangka panjang. Berbeda dengan energi terbarukan lain yang masih dipengaruhi kondisi cuaca, panas bumi dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional.

"Karena itu, keberadaan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk sangat penting bukan hanya dalam konteks bisnis energi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi nasional menjaga kemandirian energi Indonesia di tengah ketidakpastian global," kata dia.

Baca Juga: Harga Solar Nonsubsidi Pertamina Turun Mulai Juni 2026, Dexlite Kini Rp23.000 per Liter

x|close