Kepala BRIN: Ekonomi Desa Jadi Fondasi Indonesia Menuju Kekuatan Ekonomi Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jun 2026, 22:01
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di sela-sela kegiatan BRIN Goes to Villages di Jakarta, Kamis (4/6/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di sela-sela kegiatan BRIN Goes to Villages di Jakarta, Kamis (4/6/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa penguatan ekonomi berbasis pedesaan merupakan salah satu fondasi utama untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada periode 2045–2075.

Dalam kegiatan BRIN Goes to Villages di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026, Arif menjelaskan bahwa ekonomi desa memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri yang mudah berpindah lokasi. Menurutnya, aktivitas ekonomi pedesaan memiliki keterkaitan erat dengan sumber daya lokal sehingga mampu menjadi penopang pembangunan yang lebih berkelanjutan.

"Mengapa ekonomi desa? Karena ekonomi desa itu bukan footloose industry. Footloose industry itu adalah industri yang tidak ada kaitan dengan resources," katanya.

Arif menekankan bahwa pembangunan ekonomi desa harus berjalan seiring dengan transformasi sosial. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi peningkatan kualitas masyarakat berpotensi menimbulkan kesenjangan dan melahirkan fenomena modernisasi tanpa pembangunan. Karena itu, desa harus diposisikan sebagai pusat transformasi ekonomi dan sosial yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Baca Juga: Kemendes Perkuat Koperasi Desa Merah Putih untuk Dorong Ekonomi Desa

"Ketika desa menjadi sumber pertumbuhan baru, menjadi sumber transformasi ekonomi, transformasi sosial, kemudian mengkait dengan masyarakat, partisipasi masyarakat desa tinggi, maka transformasi sosial otomatis akan terjadi. Karena kualitas SDM akan meningkat, kualitas pendidikan meningkat, kualitas kesehatan meningkat, pada akhirnya kualitas manusia akan meningkat," ujarnya.

Untuk memperkuat pandangannya, Arif mencontohkan pengalaman Korea Selatan pada era Presiden Park Chung-hee. Menurutnya, negara tersebut sempat menghadapi ketimpangan sosial akibat fokus berlebihan pada industrialisasi berbasis teknologi tinggi. Namun, melalui gerakan Saemaul Undong yang memperkuat pembangunan pedesaan dan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat, Korea Selatan berhasil membangun fondasi yang kokoh sebelum berkembang menjadi negara industri maju.

Baca Juga: Prabowo: MBG Bukan Sekadar Program Makan, tetapi Investasi Besar untuk Masa Depan Bangsa dan Kebangkitan Ekonomi Desa

Arif menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Dengan wilayah yang jauh lebih luas dan jumlah desa yang sangat besar, Indonesia membutuhkan sinergi yang kuat untuk membangun desa secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa industrialisasi tanpa fondasi desa yang kuat hanya akan menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi.

"Nah sehingga kita perlu terus berlari, perlu terus bersinergi untuk membangun desa ini tanpa lelah. Karena apa? Karena kita sudah terbukti, dimanapun ekonomi, dimanapun industrialisasi tanpa fondasi desa yang kuat, maka terjadi adalah ketimpangan," tutur Arif Satria.

(Sumber: Antara)

x|close