Ntvnews.id, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong penguatan peran desa dalam pembangunan nasional melalui penyelenggaraan program BRIN Goes to Villages. Inisiatif tersebut dirancang untuk menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat transformasi desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang didukung ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan kemajuan Indonesia sangat bergantung pada perkembangan desa. Karena itu, berbagai hasil riset yang dihasilkan para peneliti harus mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, pengembangan usaha mikro dan kecil, hingga peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan desa.
"Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan. Desa harus menjadi subjek sekaligus pusat pertumbuhan baru yang mampu menggerakkan ekonomi lokal berbasis pengetahuan, teknologi, dan inovasi," kata Arif di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurut Arif, Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa yang menyimpan potensi besar untuk menjadi penggerak pembangunan nasional. Namun demikian, sejumlah tantangan masih harus diatasi, seperti keterbatasan akses terhadap teknologi, rendahnya produktivitas ekonomi masyarakat, pengelolaan lingkungan yang belum optimal, serta kapasitas sumber daya manusia yang masih perlu diperkuat.
Baca Juga: Purbaya soal Influencer Tak Dapat PPh UMKM 0,5 Persen: Tak Ada Lapangan Kerjanya
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan konsep Desa Inovasi yang bertumpu pada lima pilar utama, yakni Smart and Innovative Society, Smart and Innovative Economy, Smart and Innovative Governance, Smart and Innovative Living and Environment, serta Smart and Innovative Heritage. Kelima pilar tersebut dirancang untuk menciptakan perubahan yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam pembangunan desa.
"Melalui Program Desa Inovasi, BRIN ingin memastikan bahwa hasil riset hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Arif menegaskan bahwa indikator kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur semata, melainkan juga dari kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas masyarakat desa menjadi salah satu fokus utama agar mereka mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki.
Baca Juga: Infografik: Pemerintah Perketat Penerima PPh Final UMKM 0,5 Persen
"Riset dan inovasi harus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Ketika teknologi tepat guna dapat dimanfaatkan oleh petani, pelaku UMKM, kelompok perempuan, maupun generasi muda desa, maka produktivitas akan meningkat dan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan," ucap Arif.
Lebih lanjut, ia menilai pembangunan desa berbasis inovasi hanya dapat berhasil apabila didukung kerja sama berbagai pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
"Kolaborasi adalah kunci. BRIN menyediakan solusi berbasis riset dan teknologi, sementara pemerintah daerah, kementerian, dunia usaha, dan masyarakat menjadi mitra dalam memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata," tutur Arif Satria.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria membuka kegiatan BRIN Goes to Villages di Jakarta, Kamis (4/6/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad (Antara)