Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia akan memegang keketuaan Developing Eight (D-8) periode 2026–2027, sebuah momentum strategis untuk memperkuat peran negara berkembang dalam percaturan ekonomi global.
D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang dibentuk melalui Deklarasi Istanbul pada KTT Kepala Negara/Pemerintahan pada 15 Juni 1997, dengan tujuan meningkatkan posisi tawar dan kontribusi negara berkembang dalam perekonomian global.
Organisasi ini beranggotakan Turki, Iran, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Mesir dan Nigeria, dengan Azerbaijan yang akan menjadi anggota ke-9 pada 2025.
Selama masa keketuaan yang dimulai 1 Januari 2026, Indonesia mengusung tema: “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama.”
Baca Juga: Menlu Dorong KTT D-8 2026 Hasilkan Kerja Sama Ekonomi yang Konkret
Tema ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk mendorong kolaborasi yang lebih inklusif dan berkeadilan di antara negara-negara anggota.
Fokus keketuaan Indonesia meliputi integrasi ekonomi dan perdagangan, pembangunan ekosistem ekonomi halal, penerapan ekonomi biru dan hijau, penguatan konektivitas serta transformasi digital, hingga reformasi organisasi D-8.
Agenda tersebut diarahkan untuk menjawab tantangan global sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru bagi negara anggota.
Sebagaimana ditegaskan dalam kutipan resmi, “D-8 bukan sekadar potensi, tetapi realitas kerja sama ekonomi yang semakin relevan di tengah fragmentasi geopolitik dan geoekonomi global.”
Berikut Infografiknya:
Indonesia memegang keketuaan Developing Eight (D-8) periode 2026-2027. Momentum ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan negara berkembang di tengah politik global yang tidak menentu. (Antara)
Baca Juga: Pakistan Suarakan Dukungan Bagi Kepemimpinan Indonesia di Organisasi D-8
Indonesia memegang keketuaan Developing Eight (D-8) periode 2026-2027. Momentum ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan negara berkembang di tengah politik global yang tidak menentu. (Antara)