Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat terus bekerja sama untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam sektor pertanian.
Hal tersebut sebagai bagian dari proses negosiasi Perjanjian Perdagangan Resiprokal untuk menyeimbangkan neraca perdagangan, Indonesia telah berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian AS terutama untuk bahan baku industri domestik.
Komitmen ini tercantum dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh entitas bisnis dari kedua negara pada Juli 2025.
Nota Kesepahaman tersebut mencakup lima komoditas, yaitu kedelai, bungkil kedelai, gandum, kapas, dan jagung, yang dibutuhkan sebagai bahan baku untuk industri Indonesia dan belum diproduksi di dalam negeri.
Baca juga: Negosiasi Tarif RI–AS, Pemerintah Buka Akses Ekspor Mineral Kritis melalui Danantara
“Dari sisi para pengusaha dari pihak Indonesia juga tertarik untuk melanjutkan perdagangan. Tidak hanya untuk komoditas pertanian atau pangan, tetapi juga komoditas lain yang sangat penting bagi industri, seperti kapas dan beberapa lainnya,” Airlangga, Kamis 5 Februari 2026.
Menko Airlangga menuturkan, pertemuan dengan USDA hari ini merupakan sesuatu hal yang baik, karena perdagangan dengan AS merupakan sesuatu yang penting juga bagi Indonesia.
Selain sektor pertanian yang ditargetkan untuk pembelian sekitar USD4,5 miliar dari AS.
“Jadi, saya pikir kita mendorong kemajuan perjanjian dagang ini, karena saya pikir akan ada juga peluang investasi yang muncul dari kesepakatan ini. Begitulah cara Indonesia menerima investasi AS. Anda membawa modal serta teknologi, dan itu penting bagi Indonesia,” tutur Menko Airlangga.
Seperti dikutip dari situs Kedutaan Besar AS bahwa USDA mengadakan misi dagang ke Jakarta, Indonesia untuk memperluas akses pasar, meningkatkan ekspor pertanian Amerika, dan memanfaatkan peluang baru yang tercipta melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia-AS.
Dalam misi yang dijadwalkan berlangsung pada 2-6 Februari 2026 tersebut, Delegasi AS dipimpin oleh Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs Luke J. Lindberg.
Baca juga: Airlangga: Negosiasi Tarif RI-AS Berjalan dengan Baik
Selama kunjungan, staf Foreign Agricultural Service (FAS) USDA dan para ahli regional akan mengadakan pengarahan pasar, kunjungan lapangan, dan pertemuan business-to-business (B2B) dengan pembeli dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste.
“Presiden Trump dan saya mengadakan pertemuan dengan kelompok petani di Iowa pada minggu lalu. Dari pembicaraan yang produktif di sana dapat disimpulkan tentang pentingnya membangun kemitraan yang kuat dan langgeng di seluruh dunia. Dan, saya belum mendengar dari para petani kami tentang pasar lain yang lebih mereka sukai untuk diajak bermitra, selain Indonesia,” kata Wakil Menteri Lindberg.
Menurut Wakil Menteri Lindberg, antusiasme itu terlihat dari sejumlah 21 perusahaan agribisnis yang hadir pada pertemuan hari ini, lalu ada sebanyak 20 cooperator organizations yang mewakili segmen industri, serta ada 6 Departemen Pertanian dari negara bagian di AS.
Manfaat sektor pertanian secara khusus ditujukan bagi ketahanan pangan di kedua negara, terutama ketahanan pangan yang berlanjut dari generasi ke generasi.
“Saya tahu banyak perusahaan kita yang hadir ini sangat ingin melihat kesepakatan dan transaksi terjadi di bawah perjanjian baru ini, serta ingin membangun hubungan pembeli-penjual yang akan berlangsung sangat lama. Jadi, saya benar-benar merasa bahwa masa depan yang indah ada di depan kita, dan kami sangat berharap dapat mengembangkan kesepakatan ini lebih lanjut,” pungkas Wakil Menteri Lindberg.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat terus bekerja sama untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam sektor pertanian.