Ntvnews.id, Jakarta - Analis Goldman Sachs Group Inc menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
Hal tersebut menyusul kekhawatiran MSCI Inc terkait kelayakan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari USD13 miliar jika peringkat pasar diturunkan menjadi status frontier.
Bank Wall Street itu memperkirakan dalam skenario ekstrem di mana Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI dapat menjual hingga USD7,8 miliar.
Arus keluar lebih lanjut sebesar US$5,6 miliar juga dapat dipicu jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free-float-nya.
"Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai beban yang akan menghambat kinerja pasar," tulis analis termasuk Timothy Moe dalam laporan dikutip dari Bloomberg, Kamis 29 Januari 2026.
Baca juga: IHSG Anjlok, Bos Danantata: Kalau Tak Ada Perubahan, Pasti Jatuh
Baca juga: Mengenal Trading Halt, Rem Darurat Bursa Saat IHSG Anjlok 8 Persen
Goldman Sachs menekankan bahwa mengingat manajer dana aktif regional memiliki posisi overweight di pasar, beban dari kemungkinan penurunan status, ditambah dengan meningkatnya tekanan pasar dan potensi penurunan likuiditas, kemungkinan akan mendorong investor long-only menyesuaikan kembali portofolio mereka. Hal ini juga dapat memicu aliran spekulatif dari hedge fund.
Saham Indonesia anjlok 7,4 persen pada Rabu setelah MSCI mengumumkan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menangani kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi pada perusahaan terdaftar, dengan alasan "masalah fundamental dalam hal kelayakan investasi."
Intinya, kekhawatiran terkait rendahnya free float jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan telah muncul sebagai titik masalah bagi saham Indonesia.
Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Antara)