Rosan Roeslani: Investasi Triwulan IV 2025 Tetap Beri Kontribusi Positif bagi APBN

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Jan 2026, 00:05
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dan Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dan Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa peningkatan realisasi investasi pada triwulan IV 2025 yang tumbuh 9,7 persen secara tahunan (year on year/YoY) tetap memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, meskipun defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar hingga 2,92 persen.

Rosan menjelaskan bahwa investasi merupakan komitmen jangka panjang yang manfaat fiskalnya tidak selalu langsung terlihat di tahap awal.

“Memang investasi itu adalah long term commitment. Memang dari investasi yang masuk ini, ada beberapa investasi awal yang kita berikan insentif, tetapi kan dampak dari pajak-pajak lainnya juga tercipta, dan kesejahteraannya juga meningkat. Jadi saya yakin ini ke depannya juga akan terus memberikan kontribusi yang positif terhadap APBN kita,” ujar Rosan di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.

Menurut Rosan, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), penerimaan pajak dari investasi tidak hanya muncul pada awal operasional proyek, melainkan akan terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya kegiatan usaha.

“Tidak langsung pada hari H-nya pada saat misalnya manufacturing pabrik itu berjalan, tapi pada saat nanti dalam perjalanannya terus meningkat, terus berjalan dengan baik, sehingga kontribusinya akan makin besar terhadap APBN," ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa pemerintah memandang investasi tidak semata-mata dari sisi nilai finansial, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Ia mencontohkan sektor perkebunan dan pertanian yang meskipun nilai investasinya relatif lebih kecil dibandingkan sektor mineral, namun memiliki daya serap tenaga kerja yang jauh lebih besar.

“Contohnya di hilirisasi kelapa, nilainya 100 juta dolar AS tapi penciptaan lapangan pekerjaannya itu mencapai 10 ribu orang. Biasanya kalau di hilirisasi mineral, itu angkanya 1 miliar dolar AS, 1,5 miliar dolar AS, 2 miliar dolar AS, ada 4 miliar dolar AS," katanya lagi.

Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan antar sektor agar investasi yang masuk tidak hanya memperkuat basis fiskal negara dalam jangka panjang, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat secara luas.

Berdasarkan data pemerintah, realisasi investasi pada periode Oktober–Desember 2025 tercatat mencapai Rp496,9 triliun atau tumbuh 9,7 persen secara tahunan. Capaian triwulan IV tersebut setara dengan 26,1 persen dari target investasi sepanjang 2025 yang ditetapkan sebesar Rp1.931 triliun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi sementara APBN 2025 mencatat defisit sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB) per 31 Desember 2025. Angka tersebut melebar dibandingkan target awal defisit APBN 2025 sebesar 2,53 persen dan proyeksi laporan semester yang berada di level 2,78 persen, serta hampir menyentuh batas maksimal defisit yang diatur undang-undang sebesar 3 persen.

“Walau melembung, kami pastikan di bawah 3 persen,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

Sementara itu, realisasi sementara pendapatan negara hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau setara 91,7 persen dari target APBN 2025 yang dipatok sebesar Rp3.005,1 triliun.

(Sumber: Antara)

x|close