Danantara Sedang Kaji Rencana Pembentukan BUMN Tekstil

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jan 2026, 20:00
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani ditemui usai konferensi pers capaian investasi sepanjang 2025 di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2025. (ANTARA/Muzdaffar Fauzan) Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani ditemui usai konferensi pers capaian investasi sepanjang 2025 di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2025. (ANTARA/Muzdaffar Fauzan) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan pihaknya masih melakukan kajian mendalam terkait rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Menurut dia, setiap rencana investasi yang dijalankan Danantara harus melalui studi kelayakan dan asesmen menyeluruh, termasuk untuk sektor tekstil yang saat ini menjadi perhatian pemerintah.

Rosan mengatakan seluruh investasi Danantara dilakukan berdasarkan kajian komprehensif dengan sejumlah kriteria dan parameter yang harus dipenuhi. Salah satu parameter penting yang menjadi pertimbangan utama adalah kemampuan investasi tersebut dalam menciptakan lapangan kerja.

"Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor. Tentunya juga kita ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga, parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," ucap dia ditemui di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menjelaskan Danantara terbuka untuk menerima peluang investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dari parameter yang ditetapkan, sepanjang investasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Rosan menilai sektor tekstil memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan.

Baca Juga: Lampaui Target, Rosan Sebut Realisasi Investasi di 2025 Tembus Rp1.931 Triliun

Menurut dia, Danantara juga mencermati peluang investasi pada perusahaan-perusahaan tekstil yang telah masuk dalam kategori aset bermasalah atau distressed asset.

"Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset," katanya lagi.

Saat ditanya mengenai kepastian pembentukan BUMN tekstil baru, Rosan menegaskan hingga kini belum ada keputusan final. Danantara masih membuka berbagai opsi yang memungkinkan.

"Kita masih melihat opsi-opsinya," ucap dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah akan membentuk BUMN baru khusus di sektor tekstil. Rencana tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu, 11 Januari 2026.

Airlangga menyebut industri tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif Amerika Serikat. Oleh karena itu, pemerintah menilai perlu menghidupkan kembali peran BUMN di sektor tersebut.

Baca Juga: Prabowo Gelar Ratas Bahas Transformasi Industri Tekstil hingga Pengembangan Chip

"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.

Ia menjelaskan berdasarkan hasil studi yang telah rampung, rencana pembentukan BUMN tekstil akan dilanjutkan dengan penyusunan peta jalan penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS melalui BPI Danantara.

Dana tersebut akan diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, hingga peningkatan ekspor sektor tekstil.

"Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS), bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun l, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga mengakui saat ini masih terdapat kelemahan pada rantai nilai industri tekstil, khususnya pada tahapan produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing.

(Sumber: Antara)

x|close