Ntvnews.id, Jakarta - Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2030. Proyeksi tersebut disampaikan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF).
Adapun masifnya adopsi artificial intelligence (AI) teknologi kecerdasan buatan serta ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama pendorongnya.
Dalam survei terbaru WEEF mencatat, 41 perusahaan di seluruh dunia mengaku berencana melakukan merampingkan tenaga kerja mereka seiring pekerjaan yang bisa digantikan oleh robot.
Dari ratusan perusahaan besar yang disurvei di seluruh dunia, 77 persen menyatakan berencana melatih ulang dan meningkatkan keterampilan pekerja yang ada pada 2025-2030 agar dapat bekerja lebih baik bersama AI.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian 10 Januari 2026, Galeri24 dan UBS Naik ke Rp2,65 Juta Segram
"Kemajuan dalam AI dan energi terbarukan membentuk ulang pasar tenaga kerja, mendorong peningkatan permintaan untuk banyak teknologi atau peran spesialis, sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan lain, seperti desainer grafis," ucap WEF dikutip dari CNN pada Sabtu 10 Januari 2026.
Managing Director WEF Saadia Zahidi menyoroti peran AI generatif dalam membentuk ulang industri dan tugas di semua sektor.
Teknologi ini dapat menciptakan teks, gambar, dan konten orisinal lainnya sebagai respons atas perintah dari pengguna.
Petugas layanan pos, sekretaris eksekutif dan pegawai penggajian adalah di antara pekerjaan yang diharapkan pengusaha untuk mengalami penurunan jumlah tercepat di tahun-tahun mendatang, baik karena penyebaran AI atau tren lainnya.
"Desainer grafis dan sekretaris hukum di luar 10 peran pekerjaan tercepat, prediksi pertama kali yang tidak terlihat dalam edisi sebelumnya dari Future of Jobs Report, dapat menggambarkan peningkatan kapasitas GenAI untuk melakukan pekerjaan pengetahuan," kata laporan itu.
Baca juga: BMKG Prakirakan Seluruh Jakarta Diguyur Hujan di Sabtu Pagi
Sebaliknya, keterampilan AI semakin diminati, hampir 70 persen perusahaan berencana untuk mempekerjakan pekerja baru dengan keterampilan untuk merancang alat dan perangkat tambahan AI.
Kemudian 62 persen bermaksud untuk merekrut lebih banyak orang dengan keterampilan untuk bekerja lebih baik bersama AI.
Banyak pekerja telah digantikan oleh AI, dalam beberapa tahun terakhir beberapa perusahaan teknologi, termasuk layanan penyimpanan file Dropbox dan aplikasi pembelajaran bahasa Duolingo.
Ilustrasi - Sejumlah pekerja berjalan sepulang kerja di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. (Dok.Antara)