Harga Emas Melonjak, BPS Catat Andil Inflasi Tertinggi di 2025

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jan 2026, 16:40
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tangkapan layar - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin, 5 Januari 2026. ANTARA/Uyu Septiyati Liman. Tangkapan layar - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin, 5 Januari 2026. ANTARA/Uyu Septiyati Liman. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar di Indonesia sepanjang tahun 2025, seiring berlanjutnya tren kenaikan harga emas di pasar global hingga akhir tahun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,79 persen selama 2025.

“Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025,” ujar Pudji di Jakarta, Senin, 5 Januari 2026.

Selain emas perhiasan, komoditas lain yang turut memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan 2025 adalah cabai merah dengan kontribusi 0,18 persen. Selanjutnya, ikan segar, cabai rawit, dan beras masing-masing menyumbang andil sebesar 0,15 persen.

BPS juga mencatat daging ayam ras dan tarif air minum PAM memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,14 persen, disusul bawang merah sebesar 0,10 persen dan sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,06 persen.

Baca Juga: Pramono Dorong Digitalisasi, Kendalikan Inflasi, dan Perkuat Mitigasi Bencana

Secara kumulatif hingga Desember 2025, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) maupun inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,92 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada 2024.

Pudji menjelaskan, jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan paling besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dengan andil inflasi mencapai 1,33 persen.

“Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras,” katanya.

Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan dengan inflasi sebesar 13,33 persen dan andil 0,87 persen, terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tahunan sebesar 0,28 persen dengan andil deflasi 0,02 persen.

Baca Juga: Wamendagri: Emas Masih Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Nasional

Berdasarkan komponen inflasi, Pudji menyampaikan seluruh komponen mengalami inflasi sepanjang 2025. Inflasi tahunan tertinggi terjadi pada komponen harga bergejolak (volatile food) sebesar 6,21 persen dengan andil 1,01 persen.

Inflasi pada komponen tersebut didorong oleh komoditas pangan seperti cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.

Selain itu, komponen inti mencatat inflasi tahunan sebesar 2,38 persen dengan andil terbesar mencapai 1,53 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya akademi atau perguruan tinggi, serta kopi bubuk.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi tahunan sebesar 1,93 persen dengan andil 0,38 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, kemudian sigaret kretek mesin atau SKM, bensin, dan sigaret kretek tangan atau SKT,” ujar Pudji Ismartini.

(Sumber: Antara) 

HIGHLIGHT

x|close