Ntvnews.id, Jakarta - Analis keuangan Finex Brahmantya Himawan menyampaikan bahwa prospek harga emas dan perak pada awal 2026 diperkirakan semakin menguat. Menurutnya, kombinasi faktor kebijakan moneter global, dinamika geopolitik, serta peningkatan kebutuhan industri menjadi pendorong utama penguatan kedua logam mulia tersebut.
Dalam siaran pers di Jakarta, Jumat, Brahmantya menilai bahwa reli harga emas dan perak ke depan berpotensi bersifat lebih struktural dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.
Ia memproyeksikan harga emas pada 2026 bergerak di kisaran 4.700 hingga 5.000 dolar Amerika Serikat (AS) per troy ounce. Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.715 per dolar AS, kisaran tersebut setara dengan Rp78,5 juta hingga Rp83,6 juta per troy ounce.
Jika dikonversikan ke satuan gram, proyeksi tersebut menunjukkan harga emas berada di kisaran Rp2,52 juta hingga Rp2,69 juta per gram.
Brahmantya menjelaskan bahwa salah satu katalis utama penguatan emas berasal dari penurunan imbal hasil riil obligasi Amerika Serikat.
“Ketika real yield turun dan pasar melihat potensi pelonggaran moneter, emas secara historis selalu mendapat dorongan struktural. Kondisi saat ini sangat mirip dengan fase awal reli jangka panjang sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Menguat di Awal Tahun, Segram Jadi Rp2,5 Juta
Ilustrasi emas perhiasan/Ist
Sementara itu, berbeda dengan emas, perak dinilai memiliki karakteristik ganda sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri. Brahmantya menyebutkan bahwa meningkatnya permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, serta teknologi diperkirakan akan mendorong harga perak bergerak lebih agresif.
Ia memproyeksikan harga perak pada 2026 berada di rentang 90 hingga 120 dolar AS per troy ounce, atau setara dengan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per gram.
Lebih lanjut, Brahmantya menambahkan bahwa masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis di Amerika Serikat turut memperkuat prospek jangka menengah logam tersebut.
“Perak saat ini berada di persimpangan menarik antara kebutuhan industri dan minat investasi. Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, terutama saat siklus ekonomi bergeser,” ucap Brahmantya.
Dengan tren harga yang dinilai semakin konstruktif, ia menegaskan bahwa emas dan perak masih relevan untuk dijadikan aset lindung nilai, khususnya bagi investor dengan horizon jangka panjang.
(Sumber : Antara)
Ilustrasi - Pedagang memperlihatkan perhiasan emas. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nz/aa. (Antara)