Ntvnews.id, Jakarta - Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa kontribusi investasi dari sektor hilirisasi mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 30 persen dari total keseluruhan realisasi investasi nasional pada semester pertama 2026.
Rosan memaparkan bahwa total realisasi investasi pada semester pertama 2026 sukses menyentuh angka Rp1.010,6 triliun, atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, serta berhasil menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja baru.
"Nah dari total investasi tersebut angka hilirisasi meningkat dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 30 persen dari total investasi yang masuk," kata Rosan dalam kegiatan Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10).
Ia menambahkan bahwa lebih dari 75 persen dari total realisasi investasi hilirisasi tersebut terpusat di luar Pulau Jawa. Perkembangan positif ini dinilai membuktikan bahwa agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional kini telah berhasil menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Maluku Utara.
"Lebih dari 75 persen realisasinya di luar Jawa dari hilirisasi," ujarnya.
Lebih lanjut, Rosan menyebutkan bahwa sektor industri pengolahan kini telah memberikan andil besar dengan menyumbang hampir separuh dari produk domestik regional bruto (PDRB) Maluku Utara. Transformasi ini membuat Maluku Utara tidak lagi dipandang semata-mata sebagai daerah penghasil tambang mentah, melainkan telah menjelma menjadi kawasan industri modern.
Lonjakan tersebut turut tercermin dari surplus neraca perdagangan Maluku Utara yang mencapai Rp31,1 triliun sepanjang tahun 2025, yang utamanya ditopang oleh ekspor produk olahan nikel seperti feronikel, nikel matte, mixed sulfide precipitation, nikel sulfat, hingga kobalt.
Dalam kesempatan yang sama, ia merinci terdapat 10 proyek strategis di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dengan total nilai investasi menembus 10,2 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan kisaran Rp180 triliun.
Dari jumlah tersebut, sebanyak empat proyek senilai 3,4 miliar dolar Amerika Serikat telah tuntas dan memasuki tahap operasi komersial serta ekspor, sementara enam proyek lainnya dengan nilai 6,8 miliar dolar Amerika Serikat baru saja memulai tahap pembangunan.
Keenam proyek baru tersebut mencakup pengembangan material baterai berbasis nikel beserta elektrolit baterai kendaraan listrik, produksi aluminium elektrolit, penyediaan alat berat bertenaga listrik untuk sektor pertambangan, hingga pabrik kaca fotovoltaik.
Keseluruhan rangkaian proyek strategis ini diproyeksikan mampu membuka lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
"Dari 10 proyek tersebut mungkin saya tidak sebutkan satu-satu tetapi ini bergerak dari material baterai berbasis nikel, kemudian produksi baterai aluminium elektrolit, alat berat berbasis listrik. Itu yang sudah selesai," katanya.
(Sumber; Antara)
Rosan sebut hilirisasi sumbang 30 persen investasi nasional Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani berbicara dalam Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik Kawasan Industri Weda Bay di Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026). (Antara)