Purbaya Sebut Cicilan Utang Whoosh Rp1 Triliun per Tahun, Tenor 80 Tahun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Sep 2026, 17:46
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan dalam taklimat media di Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan dalam taklimat media di Jakarta, Selasa, 8 September 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh telah direstrukturisasi dengan tenor mencapai 80 tahun. Berdasarkan skema tersebut, cicilan yang harus dibayarkan diperkirakan berada di kisaran Rp1 triliun setiap tahun.

“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya dalam taklimat media di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Menurut Purbaya, nilai kewajiban yang harus ditanggung melalui skema tersebut masih berada dalam tingkat yang dapat dikelola. Ia menilai besaran cicilan tahunan yang relatif ringan membuat Kementerian Keuangan mampu menangani beban tersebut.

Sebelumnya, Purbaya menyampaikan rencana pemerintah untuk melibatkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU) yang berada di bawah Kementerian Keuangan dalam pengelolaan utang Whoosh.

Baca JugaPurbaya Pastikan Dana Utang Kereta Cepat Tersedia

Presiden RI Prabowo Subianto kembali menaiki kereta cepat Whoosh menuju Stasiun Halim, Jakarta, dari Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Kamis 7 Agustus 2025. ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden <b>(Antara)</b> Presiden RI Prabowo Subianto kembali menaiki kereta cepat Whoosh menuju Stasiun Halim, Jakarta, dari Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Kamis 7 Agustus 2025. ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden (Antara)

Dua lembaga yang tengah dipertimbangkan untuk menjalankan tugas tersebut adalah Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Namun, Purbaya kini membuka kemungkinan hanya satu SMV yang ditugaskan karena besaran cicilan tahunan dinilai tidak terlalu berat.

“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya menambahkan.

Pengalihan tanggung jawab pengelolaan utang proyek KCJB dari Danantara kepada pemerintah melalui Kementerian Keuangan dijadwalkan berlangsung pada 15 September 2026.

Setelah pengelolaan Whoosh berada di bawah pemerintah, Purbaya juga memiliki rencana untuk memperluas jaringan kereta cepat tersebut. Salah satu target yang disiapkan adalah memperpanjang jalurnya hingga Jawa Timur.

Baca JugaPurbaya Respons Tambahan Anggaran K/L Tahun Depan: Kalau Uangnya Banyak, Saya Kasih Semua

“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya. Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” tuturnya.

Purbaya sebelumnya juga menyebut keterlibatan perusahaan yang berada di bawah Kementerian Keuangan dalam restrukturisasi utang Whoosh berpotensi menghasilkan keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun.

Ia menilai kapasitas SMV atau BLU di bawah Kementerian Keuangan cukup memadai untuk menjalankan pengelolaan utang tersebut.

Selain itu, menurut Purbaya, salah satu perusahaan yang termasuk dalam SMV berpotensi memperoleh keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun dalam setahun.

(Sumber: Antara)

x|close