Simpan Asset Ungkap Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Mendukung Investasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 16:12
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Simpan Asset Management menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia selama 18 bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian kebijakan dan tekanan nilai tukar, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi nasional. Simpan Asset Management menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia selama 18 bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian kebijakan dan tekanan nilai tukar, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi nasional. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Simpan Asset Management menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia selama 18 bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian kebijakan dan tekanan nilai tukar, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Adapun Rupiah melemah 15,6 persen terhadap dolar AS sejak Oktober 2024, IHSG menyentuh valuasi terendah sejak era Covid, dan kepemilikan asing di obligasi pemerintah Indonesia turun dari sekitar 23 persen menjadi hanya 13 persen.

"Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Bagi investor, ini adalah sinyal yang perlu dibaca dengan tepat, bukan direspons dengan kepanikan,” ucap Co-Founder Simpan Asset Management Nicholas Hilman, Kamis 18 Juni 2026.

Menurutnya, tekanan utama saat ini berasal dari sisi fiskal dan stabilitas nilai tukar. 

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.856 per Dolar AS, Pasar Tunggu Hasil RDG BI

Dari sisi fiskal, Pemerintah disebut tidak mencapai target penerimaan negara 2025 sebesar Rp3.000 triliun dan hanya merealisasikan sekitar 91 persen dari target tersebut. 

Sementara itu, belanja negara terus meningkat sehingga rasio defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) mendekati batas 3 persen.

Kenaikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkat dari Rp70 triliun pada 2025 menjadi Rp268 triliun pada 2026 menjadi sorotan. Nilai tersebut disebut setara dengan gabungan anggaran Kementerian Pertahanan dan Polri.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Cadangan devisa juga turun dari USD156 miliar menjadi USD145 miliar seiring upaya intervensi di pasar valuta asing.

Kendati demikian, ia menegaskan fondasi ekonomi Indonesia masih relatif solid. Inflasi tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen.

""Pasar sedang bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan, bukan terhadap keruntuhan fundamental," katanya.

Ia menjelaskan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia lebih banyak dipengaruhi risiko nilai tukar, isu tata kelola, serta penghapusan sejumlah saham dari indeks MSCI dan FTSE. Sementara itu, kinerja fundamental emiten dinilai masih cukup baik.

Dalam hal ini, Simpan Asset Management mengandalkan strategi investasi aktif melalui layanan Actively Managed Portfolio (AMP), layanan portofolio reksa dana yang dikelola secara aktif, mencakup ekuitas, obligasi, dan pasar uang, dengan rebalancing bulanan berdasarkan model kuantitatif dan penilaian.

Baca juga: IHSG Terkoreksi di Awal Perdagangan, Pasar Menanti Putusan BI dan MSCI

Selain itu, Simpan juga menawarkan Simpan Dollar Bond Fund (DBF) sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan rupiah. 

Dalam hal ini, Simpan Asset Management tidak melihat kondisi saat ini sebagai krisis, menurutnya ini adalah dislokasi yang menciptakan peluang bagi investor yang memiliki strategi dan kesabaran yang tepat.

"Ketika aset murah bertemu dengan lingkungan makro yang masih konstruktif, itu adalah salah satu setup paling menarik yang bisa ditawarkan pasar. Yang perlu dihindari investor adalah dua respons ekstrem: panik keluar dari pasar di titik terendah, atau mengabaikan risiko nyata yang ada," tandasnya.

x|close