Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat setelah mulai terlihat aliran dana asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa, Purbaya mengatakan pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Salah satu upaya yang dilakukan yakni pembelian obligasi di pasar sekunder.
“Rupiah tidak akan bertahan di level yang (rendah) ini untuk terlalu lama. Kan tadi kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi kan? Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” ujar Purbaya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.
Menurut Purbaya, pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi sejak pekan lalu guna meredam tekanan sekaligus menjaga kepercayaan investor. Langkah tersebut dinilai mulai memberikan dampak terhadap penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.714 per Dolar AS Meski Harga Minyak Mulai Koreksi
Ia menjelaskan investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia, baik melalui pasar sekunder maupun pasar primer. Di pasar sekunder, aliran dana asing tercatat sekitar Rp500 miliar, sementara di pasar primer mencapai sekitar Rp1,68 triliun.
Purbaya menilai masuknya dana asing tersebut menjadi sinyal positif bagi pemulihan kepercayaan investor terhadap pasar surat utang Indonesia.
“Jadi, tindakan kita menjaga stabilitas pasar obligasi itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kita, mereka mulai masuk, dolar mulai masuk kan ya harusnya,” tambahnya.
Kementerian Keuangan juga terus memantau perkembangan arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi. Purbaya mengaku rutin berkoordinasi dengan Suminto terkait perkembangan aliran dana tersebut.
Baca Juga: Di Tengah Koreksi Rupiah, Pemerintah Jelaskan Perbedaan Kekuatan Ekonomi RI 2026 dengan 1998
Di sisi lain, pemerintah memastikan tidak akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Asumsi harga minyak dunia juga tetap dipertahankan pada level 100 dolar AS per barel.
“Saya nggak harus mengubah apa-apa lagi. Kami sudah melakukan penghematan yang kami pikir cukup untuk keadaan sekarang, termasuk rupiahnya sudah bergeser waktu melakukan simulasi itu,” kata Purbaya.
(Sumber: Antara)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan dalam wawancara cegat usai konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026). ANTARA/Imamatul Silfia (Antara)