Ini Alasan BI Optimistis Rupiah Menguat Mulai Juli 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 22:25
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Gubernur BI Perry Warjiyo (depan, tengah) memberi penjelasan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin 18 Mei 2026. ANTARA/Rizka Khaerunnisa Gubernur BI Perry Warjiyo (depan, tengah) memberi penjelasan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin 18 Mei 2026. ANTARA/Rizka Khaerunnisa (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat mulai Juli 2026 seiring meredanya permintaan valuta asing (valas) musiman yang meningkat pada periode April hingga Juni 2026.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan kebutuhan dolar Amerika Serikat meningkat pada periode tersebut akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, hingga kebutuhan ibadah haji.

“Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut Perry, rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 diyakini masih berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu

Sementara itu, rata-rata nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) tercatat berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS. Meski demikian, BI percaya penguatan rupiah pada Juli dan Agustus 2026 dapat menekan rata-rata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Selain dipengaruhi tingginya permintaan valas domestik, Perry menyebut tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi global yang memburuk sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada Februari 2026.

Peningkatan risiko geopolitik global terlihat dari naiknya credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di Amerika Serikat yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang, sehingga memperkuat dolar AS dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

BI mencatat pasar saham mengalami arus keluar modal sebesar Rp26,06 triliun pada Januari hingga Maret 2026.

Sementara itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow sebesar Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Di sisi lain, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum kembali mengalami outflow pada Maret akibat meningkatnya tensi geopolitik global.

Untuk menjaga daya tarik investasi, BI kemudian menaikkan suku bunga SRBI.

Langkah tersebut membuat SRBI kembali mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei 2026.

Secara keseluruhan, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan mencapai Rp105,16 triliun.

Perry juga mengungkapkan pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat.

Selain itu, aliran dana asing di pasar saham mulai mencatat inflow pada awal Mei meskipun secara tahunan masih mengalami outflow.

Menurut dia, masuknya aliran modal tersebut membantu memperkuat pasokan valas domestik di tengah tingginya kebutuhan dolar AS akibat faktor global dan musiman.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Pelemahan Rupiah Saat Ini Berbeda dengan Krisis 98

“Alhamdulillah Rp67,3 triliun itu inflow (total seluruh instrumen dari Januari-8 Mei 2026), sehingga itu menambah pasokan valas. Memang masih kurang karena demand-nya sedang tinggi dan faktor global, sehingga kami intervensi. Insya Allah nanti Juli-Agustus demand-nya sudah mulai agak menurun, itu bisa kita bisa kemudian intervensi tidak terlalu besar," ujar Perry.

Pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga turun ke level Rp17.666 per dolar AS dibanding sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.

(Sumber: Antara)

x|close