Mercedes-Benz Siapkan Strategi Baru 2030, China Tetap Jadi Pasar Kunci

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Okt 2026, 09:05
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi. Logo Mercedes-Benz. (Foto: Reuters) Ilustrasi. Logo Mercedes-Benz. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Mercedes-Benz tengah menyiapkan pembaruan strategi bisnis untuk 2030 dan tahun-tahun berikutnya.

China tetap menjadi salah satu fokus utama produsen mobil premium asal Jerman tersebut, meski perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan pada pasar otomotif terbesar di dunia itu.

Dilansir dari Reuters, Kamis (29/10/2026), CEO Mercedes-Benz, Ola Källenius, mengatakan perusahaan akan memaparkan pembaruan strategi secara lebih menyeluruh pada tahun depan.

Rencana tersebut mencakup evaluasi mendalam terhadap bisnis Mercedes di China, menyusul penurunan pasar yang lebih tajam dari perkiraan dan berdampak pada pendapatan perusahaan.

"Jika Anda adalah perusahaan mobil global seperti Mercedes, tidak ada cara untuk mengesampingkan China," kata Källenius dalam konferensi telepon dengan para analis pada Rabu (28/10/2026).

Dia menegaskan, China tetap menjadi pasar yang sangat penting sekaligus pusat inovasi bagi Mercedes-Benz. Meski demikian, perusahaan mulai mengevaluasi kembali model bisnisnya di negara tersebut.

Langkah ini dilakukan setelah pelemahan pasar otomotif secara keseluruhan, termasuk segmen kendaraan mewah, melampaui perkiraan sebelumnya. Kepala Keuangan Mercedes-Benz, Harald Wilhelm, mengatakan perusahaan ingin mengurangi ketergantungan terhadap keuntungan yang berasal dari China.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah melokalkan rantai pasokan agar kendaraan Mercedes yang diproduksi di China pada masa mendatang dapat sepenuhnya dibuat di dalam negeri. Strategi tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing Mercedes di pasar setempat.

Mercedes Bidik Pertumbuhan di Amerika Serikat

Di luar China, Mercedes-Benz juga mengincar pertumbuhan bisnis di Amerika Serikat (AS). Källenius menyebut perusahaan berencana menambah investasi di negara tersebut dan melihat peluang untuk meningkatkan penjualan tahunan dari lebih dari 300.000 unit menjadi 400.000 unit.

Langkah Mercedes sejalan dengan semakin besarnya perhatian produsen otomotif Jerman terhadap pasar AS. Sebelumnya, pesaingnya, Audi, mengumumkan investasi senilai US$4 miliar untuk membangun pabrik perakitan baru di AS. Proyek tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 4.500 lapangan kerja.

Pangkas Biaya dan Tingkatkan Daya Saing di Jerman

Sementara itu, di negara asalnya, Jerman, Mercedes-Benz terus berupaya meningkatkan efisiensi dan daya saing. Perusahaan berencana kembali menawarkan program pemutusan hubungan kerja (PHK) sukarela bagi karyawan nonproduksi mulai Desember.

Program tersebut diluncurkan kembali setelah program sebelumnya mendapat respons yang kuat dari karyawan. Pada 2025, Mercedes mencatat provisi sekitar €1,8 miliar terkait program pengurangan tenaga kerja sebelumnya.

Perusahaan menyatakan program terbaru akan mengikuti prinsip serupa, dengan sebagian besar dampak terhadap pendapatan diperkirakan baru tercatat pada 2027. Källenius menegaskan, investasi tambahan di Jerman akan bergantung pada peningkatan produktivitas dan penurunan biaya operasional.

Dia mencontohkan, biaya tenaga kerja di AS, meski tergolong negara dengan upah tinggi, berada di kisaran 80% dari biaya tenaga kerja di Jerman. Menurutnya, kesenjangan tersebut perlu dipersempit agar industri otomotif Jerman lebih kompetitif.

Mercedes juga melihat peluang untuk memanfaatkan lokasi produksi dengan biaya lebih rendah di Eropa Timur. Perusahaan telah memiliki fasilitas dan kegiatan operasional yang signifikan di Hongaria, Rumania, dan Polandia.

Dengan langkah tersebut, Mercedes-Benz berupaya menyeimbangkan strategi globalnya, mempertahankan posisi China sebagai pasar penting, memperluas peluang pertumbuhan di AS, serta meningkatkan efisiensi produksi di Eropa.