Ntvnews.id, Jakarta - CEO Volkswagen, Oliver Blume, menghadapi salah satu tantangan terbesar sepanjang masa kepemimpinannya.
Dia harus meyakinkan dewan pengawas untuk menyetujui rencana restrukturisasi besar-besaran yang mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 50.000 karyawan serta penutupan empat pabrik di Jerman.
Keputusan penting tersebut akan dibahas dalam Rapat Dewan Pengawas Volkswagen di markas besar perusahaan di Wolfsburg, Jerman, pada 9 Juli 2026.
Sejumlah analis menilai agenda itu berpotensi menjadi restrukturisasi paling besar dalam sejarah produsen mobil terbesar kedua di dunia.
Seperti dilansir dari Reuters, Rabu (8/7/2026), langkah drastis tersebut diambil di tengah tekanan yang semakin besar terhadap Volkswagen.
Persaingan ketat dari produsen mobil China, margin keuntungan yang terus menurun, serta tarif impor kendaraan ke Amerika Serikat (AS) membuat perusahaan harus segera melakukan efisiensi.
Namun, rencana itu mendapat penolakan keras dari serikat pekerja dan sejumlah pemegang saham utama yang memiliki hak untuk menghambat keputusan strategis perusahaan.
"Dia harus menyelesaikan ini. Dengan pasar yang semakin kompetitif, tidak ada pilihan lain," ujar analis otomotif independen Matthias Schmidt.
Schmidt memperkirakan peluang Oliver Blume untuk mendapatkan persetujuan dewan hanya sekitar 50 persen, dengan kemungkinan kompromi berupa penutupan dua dari empat pabrik yang diusulkan.
Restrukturisasi Terbesar Volkswagen
Berdasarkan sumber yang mengetahui pembahasan internal perusahaan, paket restrukturisasi terbaru mencakup pengurangan biaya operasional secara signifikan, penutupan empat fasilitas produksi, serta PHK sekitar 50.000 pekerja.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding restrukturisasi yang disepakati kurang dari dua tahun lalu.
Sebelumnya, Volkswagen telah mengumumkan pengurangan 35.000 tenaga kerja hingga 2030 tanpa melakukan penutupan pabrik maupun PHK wajib.
Jika rencana baru disetujui, total pengurangan tenaga kerja di seluruh grup Volkswagen diperkirakan mencapai sekitar 100.000 karyawan, menunjukkan besarnya tekanan yang kini dihadapi produsen mobil terbesar di Eropa tersebut.
Di sisi lain, harga saham Volkswagen juga masih berada di kisaran level terendah dalam 16 tahun terakhir.
Investor Desak Perubahan Lebih Besar
Tekanan terhadap Oliver Blume tidak hanya datang dari serikat pekerja. Investor terbesar Volkswagen, Porsche SE, juga mendorong perubahan yang lebih mendasar.
Setelah mengalami kerugian investasi bernilai puluhan miliar euro, Porsche SE menilai efisiensi biaya saja tidak cukup untuk mengembalikan daya saing Volkswagen di pasar global.
Sejarah menunjukkan hubungan dengan serikat pekerja selalu menjadi faktor penentu arah kebijakan Volkswagen. Meski tidak memiliki saham, perwakilan buruh memiliki pengaruh besar melalui kursi di dewan pengawas.
Penolakan serikat pekerja sebelumnya bahkan berujung pada lengsernya dua CEO Volkswagen, yakni Herbert Diess pada 2022 dan Bernd Pischetsrieder pada 2006.
"Pengurangan biaya bukanlah strategi. Itu hanya menunda penurunan yang tak terhindarkan," kata Marc Liebscher dari asosiasi pemegang saham kecil SdK.
Persaingan China Jadi Ancaman Utama
Sejak menjabat sebagai CEO pada September 2022, Oliver Blume dikenal sebagai sosok yang mampu membangun kompromi di antara berbagai pemangku kepentingan Volkswagen, mulai dari keluarga Porsche-Piëch, pemerintah negara bagian Lower Saxony, Qatar, hingga serikat pekerja.
Namun, posisinya kini semakin sulit setelah mundurnya Anggota Dewan Pengawas Susanne Wiegand bulan lalu. Perubahan komposisi dewan membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih rumit.
Analis industri otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhoeffer, menilai persoalan terbesar Volkswagen bukan hanya efisiensi perusahaan, melainkan tingginya biaya produksi di Jerman dibandingkan dengan pabrik-pabrik di China yang dinilai lebih cepat dan lebih murah.
"Volkswagen memang harus direformasi. Namun masalah terbesar perusahaan adalah Jerman. Pertanyaannya sekarang, apakah masa depan Volkswagen tetap berada di Wolfsburg atau justru di Anhui, China," ujarnya.
Sementara itu, Hendrik Schmidt dari DWS menilai Volkswagen juga perlu mengevaluasi kembali portofolio merek yang dimilikinya.
Meski demikian, dia menegaskan para pemegang saham utama belum melihat adanya sosok yang layak menggantikan Oliver Blume.
Menurutnya, pergantian CEO saat ini justru berpotensi memperbesar ketidakpastian di tengah krisis yang sedang dihadapi Volkswagen.
Oliver Blume, CEO Volkswagen AG dan Porsche AG, menghadiri konferensi pers tahunan Grup Volkswagen di Wolfsburg, Jerman, 11 Maret 2025. (Foto: Dok/Liesa Johannssen/Reuters)