Ntvnews.id, Jakarta - Pasar mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) terus menunjukkan pertumbuhan positif seiring meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Hal ini tercermin dari komposisi pemesanan Wuling Eksion yang memperlihatkan peningkatan signifikan pada varian PHEV dibanding model sebelumnya.
Wuling mencatat sekitar 30 persen pemesanan Eksion berasal dari varian PHEV, sementara 70 persen lainnya masih didominasi model Electric Vehicle (EV) murni.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa semakin banyak konsumen yang mulai melirik kendaraan hybrid plug-in sebagai alternatif menuju era elektrifikasi.
Brand Communications Senior Manager Wuling Motors, Brian Gomgom, mengungkapkan pemesanan Wuling Eksion saat ini masih didominasi oleh varian EV murni. Namun, kontribusi model PHEV terus mengalami peningkatan.
"Untuk Eksion, (komposisinya) EV itu 70 persen, lalu yang PHEV 30 persen," ujar Brian disela-sela Media Drive Wuling Eksion "Exploring Family Journeys" di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu (3/6/2026).
Komposisi varian EV lebih besar karena pada model sebelumnya, yakni Wuling Darion, penjualan EV terbukti lebih mendominasi dibandingkan varian PHEV.
Menurutnya, dominasi tersebut turut didukung oleh kuatnya citra Wuling sebagai merek kendaraan listrik di Indonesia.
"Wuling sudah menjadi salah satu merek mobil listrik yang paling diingat masyarakat. Citra kami sebagai produsen kendaraan listrik di Indonesia sudah sangat kuat dan menjadi top of mind konsumen," sambungnya.
Brian menilai capaian tersebut menjadi sinyal pasar PHEV di Indonesia mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Sebagai perbandingan, pada model Wuling Darion sebelumnya, kontribusi penjualan varian PHEV masih berada di kisaran 20 persen.
Baca Juga: Wuling Eksion PHEV Buktikan Kenyamanan Perjalanan Jarak Jauh di Rute Jakarta-Yogyakarta
"Pada Darion sebelumnya, sekitar 80 persen penjualan berasal dari varian EV dan 20 persen dari PHEV. Sementara pada Eksion, porsi PHEV sudah meningkat menjadi 30 persen. Ini menunjukkan tren kendaraan PHEV di Indonesia mulai berkembang," ungkapnya.
Brian menyebutkan teknologi PHEV menjadi solusi bagi konsumen yang masih ragu beralih langsung ke mobil listrik murni.
Diketahui, kendaraan jenis ini menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik dan baterai yang dapat diisi ulang layaknya EV.
PHEV dinilai mampu menjadi jembatan transisi dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) menuju kendaraan listrik berbasis baterai.
"PHEV ini adalah jembatannya dari ICE dan juga ke EV," imbuh Brian.
Dia menambahkan, fenomena tersebut mirip dengan perkembangan pasar EV di Indonesia pada awal 2022.
Dimana jumlah produsen yang menawarkan mobil listrik masih terbatas dan tingkat penerimaan masyarakat belum sebesar saat ini.
Namun dalam empat tahun terakhir, pasar kendaraan listrik nasional berkembang pesat. Brian menekankan pangsa pasar EV di Indonesia kini telah mencapai sekitar 18 persen.
"Di 2022 market share EV masih kecil sekali, sekarang sudah 18 persen. Jadi kami melihat masyarakat Indonesia sebenarnya cukup cepat beradaptasi dengan teknologi baru," ucapnya.
Wuling optimistis pola pertumbuhan yang sama akan terjadi pada segmen PHEV. Terlebih, semakin banyak produsen otomotif yang mulai menghadirkan model plug-in hybrid di pasar Indonesia.
Menurut Brian, bertambahnya jumlah pemain menjadi indicator segmen PHEV memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
Wuling sendiri menegaskan strategi perusahaan tidak terpaku pada satu teknologi kendaraan.
Disebutkan Brian, fasilitas produksinya di Cikarang, Jawa Barat, mampu memproduksi berbagai jenis kendaraan, mulai dari ICE, hybrid, PHEV, hingga EV.
"Pasar Indonesia membutuhkan EV, kami hadirkan EV. Saat kami melihat ada potensi PHEV, kami juga memproduksi PHEV di Indonesia," tukas Brian.
Pemesanan Wuling Eksion memperlihatkan peningkatan signifikan pada varian PHEV dibanding model selumnya. (Foto: Dok/Istimewa/Wuling Motors)