Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Deep Thinking bagi ASN di Era Digital

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Apr 2026, 11:22
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam sesi Inspirative Talks pada Kemenkeu Learning Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan, di Jakarta, Selasa (28/4/2026). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam sesi Inspirative Talks pada Kemenkeu Learning Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan, di Jakarta, Selasa (28/4/2026). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa aparatur sipil negara (ASN) perlu memperkuat kemampuan berpikir mendalam (deep thinking) serta berpikir sistemik (system thinking) untuk menghadapi tantangan global di era digital.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, Stella menjelaskan bahwa proses pembelajaran saat ini tidak lagi cukup hanya berfokus pada pengumpulan informasi, tetapi harus mampu mengolah dan memahami informasi secara efektif.

"Cognitive science itu adalah information processing. Jadi, di dunia ini begitu banyak informasi yang masuk ke kita lewat indra, tetapi tidak semua informasi itu diolah oleh otak kita," katanya.

Sebagai pakar psikologi kognitif, Stella menyoroti bahwa derasnya arus informasi terutama dari platform digital telah berdampak pada kemampuan fokus individu.

Baca Juga: Stella Christie dan Denny JA Ditunjuk Jadi Komisaris Pertamina Hulu Energi

Menurutnya, penurunan rentang perhatian (attention span) menjadi tantangan serius yang dapat memengaruhi kualitas pemahaman serta pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi persoalan yang kompleks.

Ia menilai kondisi ini menuntut ASN untuk mampu mengelola dua jenis pola pikir sekaligus, yakni berpikir cepat (fast thinking) dan berpikir lambat (slow thinking).

Dalam konteks perumusan kebijakan publik, pendekatan berpikir lambat yang bersifat analitis dan reflektif dinilai sangat penting untuk menghasilkan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

"Ambil waktu untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan bukan sekadar solusi sementara, tetapi solusi yang menyelesaikan akar permasalahan secara sistematis atau system thinking," ujar Wamendiktisaintek.

Baca Juga: Suami Wamen Stella Christie Alami Kecelakaan Parah Saat Bermain Ski di Amerika

Selain itu, Stella juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui keseimbangan antara keterampilan umum (general skills) seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan dengan keahlian teknis (technical expertise) yang mendalam. Perpaduan keduanya dinilai menjadi dasar dalam membangun sistem kerja yang efektif dan adaptif.

Dalam aspek tata kelola pemerintahan, ia juga menggarisbawahi perlunya perubahan paradigma dalam pengukuran kinerja, dari yang berbasis input menjadi berbasis hasil (outcome).

"Keberhasilan kebijakan harus dilihat dari dampak nyata yang dihasilkan, bukan semata tingkat penyerapan anggaran," tutur Stella Christie.

(Sumber: Antara)

x|close