BGN Dorong Kampus Bangun SPPG, Peluang Besar Dukung Program MBG

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Apr 2026, 20:27
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala BGN Dadan Hindayana (dua dari kanan) dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang dihadiri para rektor dari 24 PTN-BH di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/4/2026). ANTARA/HO-BGN. Kepala BGN Dadan Hindayana (dua dari kanan) dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang dihadiri para rektor dari 24 PTN-BH di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/4/2026). ANTARA/HO-BGN. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong perguruan tinggi untuk mulai mempertimbangkan pembentukan minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai langkah nyata dalam mendukung program peningkatan gizi nasional.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala BGN Dadan Hindayana sebagai pengingat bahwa kampus memiliki posisi penting dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri," ujar Dadan dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

Perguruan tinggi juga didorong untuk tidak hanya membangun, tetapi sekaligus mengelola SPPG secara mandiri. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik yang melibatkan mahasiswa secara langsung.

Baca Juga: Penerima Manfaat Tembus di Atas 60 Juta, Prabowo: Banyak Negara Belajar MBG ke Kita

Menurut Dadan, keberadaan satu unit SPPG tidak sekadar berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, melainkan juga menjadi pusat aktivitas ekonomi yang membutuhkan dukungan produksi pangan dalam skala besar.

Untuk memenuhi kebutuhan operasional satu SPPG, diperlukan sekitar 8 hektare lahan sawah guna menyuplai beras, serta kurang lebih 19 hektare lahan jagung untuk kebutuhan pakan ternak.

Selain sektor pertanian, bidang peternakan juga memegang peran penting dalam rantai pasok. Satu unit SPPG membutuhkan sekitar 4.000 ayam petelur untuk menjamin ketersediaan protein hewani setiap harinya.

"Kalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG," tuturnya.

Besarnya kebutuhan tersebut membuka peluang bagi kampus untuk mengintegrasikan kegiatan akademik dengan praktik langsung di lapangan. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam pengelolaan pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek nyata.

Lebih lanjut, Dadan menekankan bahwa SPPG berpotensi menjadi laboratorium hidup bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan riset dan inovasi.

Berbagai bidang, mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok, dapat diuji secara langsung dalam ekosistem ini.

Integrasi tersebut juga membuka ruang kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan pelaku UMKM dalam satu sistem yang saling mendukung.

Program MBG tidak hanya menciptakan permintaan pasar, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas produksi di tingkat lokal.

Baca Juga: Minta Warga Tak Minder, Prabowo: Banyak Negara Belajar MBG ke Kita

"SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi, bukan hanya soal memberi makan, melainkan juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan," paparnya.

Melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi, Program MBG diharapkan mampu memberikan dampak luas, tidak hanya pada peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga pada sektor pendidikan serta penguatan ekonomi produktif.

SPPG menjadi penghubung penting dalam membangun ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari kampus hingga petani.

(Sumber: Antara)


x|close