Ntvnews.id, Jakarta - Sebanyak tujuh orang meninggal dunia, dan tiga penumpang masih terjepit saat petugas tim SAR gabungan menerapkan skema bergantian untuk menyelamatkan korban dengan memotong besi rangkaian gerbong KRL di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa pagi 05.53 WIB.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii, mengatakan personel Basarnas dan tim SAR gabungan menggunakan peralatan ekstrikasi berat untuk memotong bagian-bagian rangkaian KRL yang menahan tubuh korban.
Pihaknya melibatkan personel yang memiliki kemampuan khusus ekstrikasi. Proses evakuasi berjalan simultan dengan penanganan medis di lokasi agar kondisi fisik korban yang masih terhimpit tetap stabil selama proses penyelamatan.
Tim harus penuh kehati-hatian dan bekerja secara efektif karena ruang gerbong KRL sempit, mengingat sebagian dari kepala KA Agro Bromo masuk ke dalamnya.
"Yang pasti kita bekerja non-stop tidak ada jeda. Personel yang akan kita ganti dari luar masuk ke dalam gerbong, kemudian di dalam kita bergantian. Dan tentunya yang kita libatkan adalah personel-personel yang memang memiliki kemampuan untuk ekstriksasi. Itu yang utama," ucapnya.
Baca juga: Danantara Buka Suara soal KA Argo Bromo Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur
Baca juga: Dony Oskaria Temani Dasco ke Lokasi Tabrakan Kereta di Bekasi: Kami Sampaikan Duka dan Mohon Maaf
Insiden maut ini terjadi pada Senin 27 April 2026 malam pukul 20.55 WIB, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor perjalanan 4 rute Gambir - Surabaya Pasar Turi yang bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur (BKST).
Tim SAR dari lokasi kejadian melaporkan sampai Selasa pukul 05.11 WIB masih terdapat tiga dari tujuh orang penumpang yang terjepit di dalam rangkaian gerbong KRL nomor 8 yang merupakan gerbong khusus wanita.
Adapun tiga orang penumpang yang terjepit berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan langsung dibawa ke RSUD Bekasi untuk tindakan medis. (Sumber:Antara)
KA Argo Bromo Anggrek Tabrakan dengan KRL di Bekasi Timur. (Instagram)