Idrus Marham: IKA PTKIN Bentuk Forum Nasional dan Siapkan Festival Dunia Baru Islam 1448 H

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Apr 2026, 06:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Umum IKA PTKIN, Idrus Marham Ketua Umum IKA PTKIN, Idrus Marham (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Pertemuan Nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia resmi ditutup pada Jumat, 24 April 2026 malam di Jakarta.

Forum ini menandai konsolidasi nasional para alumni PTKIN sekaligus merumuskan langkah strategis dalam memperkuat peran umat Islam Indonesia di tingkat global.

Ketua Umum IKA PTKIN, Idrus Marham, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah keputusan penting, termasuk pembentukan wadah komunikasi nasional antaralumni.

"Ya, jadi hari ini adalah penutupan pertemuan nasional ketua umum dan sekretaris IK PTKIN se-Indonesia dan telah mengambil beberapa keputusan. Yang pertama adalah pembentukan forum yang secara sepakat menyetujui bahwa forum diberi nama Forum Komunikasi Nasional IK PTKIN se-Indonesia dan sudah tersusun kepengurusannya ya, sudah tersusun kepengurusan dan segera akan melakukan berbagai macam kegiatan," ujarnya.

Lebih lanjut, Idrus mengungkapkan bahwa forum tersebut juga telah menyiapkan agenda besar yang akan digelar pada tahun baru Islam mendatang sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam peradaban dunia Islam.

"Salah satu kegiatan yang telah kami laporkan tadi kepada Pak Menteri Agama, bahwa Insya Allah pada tahun baru Islam 1448 Hijriah kita akan melakukan suatu kegiatan yang untuk sementara kita beri nama Festival Dunia Baru Islam, ya Islam dan transformasi peradaban dunia, Islam Indonesia merespon tantangan ya zaman baru. Itulah tema-tema sentral nanti yang akan kita lakukan dan di situ nanti ada pertemuan tokoh-tokoh Islam yang mengundang perwakilan ya dari negara-negara Islam, ya paling tidak duta-duta besar yang ada di Indonesia dan juga kita akan melakukan seminar nasional yang oleh Pak Menteri tadi mengarahkan akan lahirnya pemikiran-pemikiran ya konstruktif ya dalam rangka untuk bagaimana supaya masalah-masalah keumatan kebangsaan ini bisa kita selesaikan," jelasnya.

Baca Juga: Progres LRT Jakarta Fase 1B Capai 91,86 Persen

Ia menambahkan bahwa agenda tersebut juga akan menitikberatkan pada penguatan peran umat Islam dalam kehidupan kebangsaan serta mendorong persatuan nasional.

"Dan yang paling penting lagi juga nanti kita akan membicarakan bagaimana peran umat Islam dalam rangka untuk mengonsolidasikan ya kekuatan keumatan dan kebangsaan untuk persatuan dan kemajuan Indonesia ke depan," kata Idrus.

Selain itu, kegiatan yang dirancang juga mencakup aspek budaya sebagai bagian dari peradaban Islam yang inklusif dan beragam.

"Kemudian juga kita akan melakukan semacam festival kuliner ya dunia Islam dan juga busana ya muslim Indonesia. Jadi itu juga nanti akan kita lakukan beberapa kegiatan pada saat itu dan tentu kita sudah laporkan kepada Pak Menteri ya dan sebagai pembina forum ini dan juga kita melalui Pak Menteri nanti juga tentu akan kita minta supaya dilaporkan kepada bapak presiden, bapak Prabowo," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kondisi global saat ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk mengambil peran sebagai pusat peradaban Islam dunia.

"Memperhatikan situasi global sekarang ini, sekarang sangat timely untuk mempersiapkan Indonesia menjadi episentrum peradaban dunia Islam akan datang. Iya, dalam situasi perang yang lahir adalah jenderal, tapi dalam situasi aman dan tenang yang lahir adalah profesor. Karena itu situasi yang kita miliki sekarang ini Indonesia sangat-sangat kondusif untuk melahirkan sebuah peradaban. Peradaban itu bahasa Arabnya adalah Al-Hadarah. Al-Hadarah itu artinya stay pada suatu tempat dalam aman ya kan, lawannya adalah Badawah," jelasnya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar <b>(NTVnews)</b> Menteri Agama Nasaruddin Umar (NTVnews)

Ia menegaskan bahwa karakter Islam Indonesia yang moderat menjadi kekuatan utama dalam membangun kepercayaan dunia internasional.

"Nah saya yakin bahwa ke depan Insya Allah di situasi global seperti sekarang ini sangat menguntungkan dan sangat memungkinkan Indonesia menjadi episentrum peradaban dunia Islam masa akan datang. Dan itu diterima semua pihak, kenapa? Karena tawaran Islam Indonesia itu adalah Islam moderat, dan tidak ada orang yang ragu dan tidak ada orang curiga kalau Islam itu berkembang di Indonesia karena tidak akan pernah menjadi ancaman kepada siapapun. Berbeda mungkin di tempat yang lain. Nah inilah kekhasan Indonesia ini. Nah kita sudah punya modal sosial untuk itu," imbuhnya.

Menurutnya, sinergi antaralumni dan institusi pendidikan keagamaan menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian tersebut.

"Oleh karena itu saya menganggap pertemuan seperti sangat penting mensinergikan para alumni, para pengurus alumni ya untuk melakukan kegiatan bersama dan pada saatnya nanti pun juga kita akan lakukan sinergi dengan para rektor di bawah perguruan tinggi apa perguruan tinggi agama Islam di bawah Kementerian Agama ya. Kenapa? Karena sudah ada tanda-tanda untuk program studi teologi kita masuk urutan 29 dunia ya. Padahal di antara puluhan ribu fakultas Ushuluddin di dunia, fakultas teologi di dunia itu ya," terang Menag.

Ia juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam melahirkan pemikir-pemikir besar di bidang keagamaan.

"Nah jadi tempat kita untuk finish mencapai puncak peradaban Islam itu lebih pendek daripada nanti kalau kita mengejar pendidikan umum ya. Kalau perlu nanti ada hadiah nobel dalam bidang studi-studi keagamaan ya kita yang gudangnya di sini nih," jelasnya.

Baca Juga: BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi

Lebih jauh, Nasaruddin menyampaikan optimisme terhadap kondisi nasional yang dinilai sangat kondusif untuk pengembangan peradaban.

"Nah saya berharap seperlima umat apa seperlima dunia Islam itu umat Islam itu ada di Indonesia. Karena itu masa kita tidak bisa melahirkan pemikir-pemikir besar di mana Indonesia sedang tenang-tenangnya sekarang ini, perekonomian kita lebih kondusif, situasi politik juga lebih kondusif semuanya serba kondusif untuk melahirkan pemikir-pemikir besar di masa akan datang. Nah inilah pentingnya Ikatan Alumni ini bersinergi ya untuk melahirkan konsep peradaban dunia Islam yang sama. Dan Insya Allah saya kira seluruh dunia akan tidak keberatan bahkan mungkin akan memberikan dukungan kalau seandainya Indonesia itu menjadi tuan rumah dalam sebuah peradaban dunia modern akan datang karena kita akan non-blok. Apakah itu timur dan barat ya kita semuanya diterima oleh semua pihak. Kenapa? Karena moderasi umat Islam di Indonesia itu menjadi kebanggaan kita dan menjadi selling point kita nilai jual kita kepada negara-negara yang lain," sambungnya.

Terkait dukungan Kementerian Agama terhadap rencana festival, ia menyebut banyak potensi kegiatan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari diplomasi budaya Islam.

"Banyak sekali yang bisa kita festivalkan ya karena Islam itu kan tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan peradaban kebudayaan. Misalnya tadi masalah kesenian," ujarnya.

Ia mencontohkan bentuk konkret kegiatan yang dapat mempertemukan ragam budaya Islam dari berbagai negara.

"Ya satu contohnya misalnya kita bisa membuka International Festival for Mystical Music. Jadi musik-musik mistik ya kan, ada tari saman di Indonesia, ada selawatan dari Maroko, ada tari Whirling Dervish dari Turki. Mempertemukan kesenian-kesenian Islam lokal setiap negara itu itu luar biasa. Busana muslim, kuliner muslim, halal dan seterusnya. Jadi banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai anak tangga pertama untuk naik ke anak tangga puncak. Nah kalau itu semuanya terwujud maka Insya Allah nilai tawar Indonesia itu akan semakin tinggi karena selain populasi umat Islam yang sangat besar, Islam yang ditawarkan itu adalah Islam moderat tidak menjadi ancaman kepada negara-negara lain," jelasnya.

Menteri Agama menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai negara non-blok yang berpotensi menjadi penyeimbang dalam dinamika global.

"Dan yang paling penting juga adalah kita berada pada posisi negara yang non-blok tidak punya blok apapun. Nah inilah yang digagas oleh Bapak Presiden Prabowo kita ya, bagaimana caranya supaya Indonesia itu betul-betul bisa tampil sebagai sang pencerah di tengah suramnya geopolitik internasional sekarang ini," pungkasnya.

x|close