Iran Klaim Terima Pendapatan Perdana dari Tarif Kapal di Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Apr 2026, 06:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa 30 April 2019. ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa. Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa 30 April 2019. ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Seorang pejabat tinggi parlemen Iran mengungkapkan bahwa pemerintah telah mulai menerima pemasukan dari pungutan tarif terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

"Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," kata Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menurut kantor berita Tasnim seperti dilansir dari AFP, Jumat, 24 April 2026.

Sejumlah media Iran lainnya turut memberitakan hal serupa, meskipun tanpa rincian tambahan terkait besaran atau mekanisme pungutan tersebut.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia, menjadi pusat ketegangan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu.

Saat ini, otoritas Iran hanya mengizinkan sebagian kecil kapal untuk melintas di perairan strategis tersebut. Dalam kondisi normal, jalur ini menjadi rute penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, serta berbagai komoditas vital lainnya.

Baca Juga: Inggris dan Prancis Susun Strategi Militer untuk Buka Selat Hormuz

Sebelum pengumuman pendapatan ini, parlemen Iran sempat menggelar pembahasan terkait rencana penerapan tarif bagi kapal yang melintasi selat tersebut. Para pejabat setempat juga telah memperingatkan bahwa arus pelayaran tidak akan kembali seperti sebelum konflik terjadi.

Pada 30 Maret, media pemerintah Iran melaporkan bahwa komisi keamanan parlemen telah menyetujui rencana pengenaan tarif tersebut, meski belum ada kepastian mengenai hasil pemungutan suara akhir di parlemen.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mendesak Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Sementara itu, Inggris dan Prancis bersama perencana militer dari lebih dari 30 negara telah menggelar pembicaraan guna menjaga keamanan navigasi di kawasan tersebut. Kedua negara menyatakan kesiapan memimpin misi multinasional untuk mengamankan jalur tersebut “segera setelah kondisi memungkinkan”.

x|close