Ntvnews.id, Washington D.C - Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan memperkirakan proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz akan memakan waktu hingga enam bulan. Kondisi ini dinilai berpotensi mempertahankan tingginya harga minyak dunia.
Iran diketahui hampir sepenuhnya menutup jalur strategis tersebut sejak pecahnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dan gas serta berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Dilansir dari Al Arabiya, Jumat, 24 April 2026, selat yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia itu masih sebagian besar tertutup meski tengah berlangsung gencatan senjata yang rapuh. Di sisi lain, AS juga menerapkan blokade di kawasan tersebut.
Bahkan jika konflik mereda dan blokade dicabut, proses pembersihan ranjau diperkirakan tetap memerlukan waktu berbulan-bulan. Hal ini berdasarkan penilaian Pentagon yang dilaporkan The Washington Post, mengutip sejumlah pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut.
Baca Juga: Inggris dan Prancis Susun Strategi Militer untuk Buka Selat Hormuz
Penilaian tersebut juga menyebutkan bahwa operasi pembersihan kemungkinan baru akan dimulai setelah perang benar-benar berakhir.
Menurut laporan itu, estimasi enam bulan tersebut telah disampaikan kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS dalam sebuah pengarahan tertutup.
Para anggota parlemen diinformasikan bahwa Iran diduga telah menanam sedikitnya 20 ranjau di wilayah Selat Hormuz dan sekitarnya. Beberapa ranjau disebut dapat berpindah posisi karena dihanyutkan dengan bantuan teknologi GPS, sehingga lebih sulit dideteksi.
Arsip foto - Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran telah memperingatkan adanya “zona bahaya” seluas sekitar 1.400 kilometer persegi—setara 14 kali luas Paris—yang diduga menjadi lokasi penyebaran ranjau.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuka kembali selat tersebut selama blokade Angkatan Laut AS masih berlangsung.
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)