Kementerian Transmigrasi Dorong Hilirisasi Ubi Jalar untuk Ekspor

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 11:40
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara saat berkunjung ke Universitas Padjajaran, Sumedang, pada Rabu (22/4/2026). ANTARA/Ilham Nugraha. Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara saat berkunjung ke Universitas Padjajaran, Sumedang, pada Rabu (22/4/2026). ANTARA/Ilham Nugraha. (Antara)

Ntvnews.id, Sumedang - Kementerian Transmigrasi menyiapkan langkah strategis untuk mengembangkan komoditas ubi jalar melalui hilirisasi guna meningkatkan kualitas ekspor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan bahwa upaya ini dilakukan untuk menjawab tantangan rendahnya porsi produksi yang memenuhi standar ekspor.

“Untuk kualitas ekspor hanya sekitar 15 persen saja dari produksi yang bisa dikirim ke luar negeri. Padahal pasarnya sudah ada, seperti Korea Selatan dan Jepang, dan potensinya masih sangat besar,” katanya saat berkunjung ke Sumedang, Rabu, 22 April 2026.

Baca Juga: Mentrans Iftitah Tinjau Barelang, Dorong Jadi Pusat Ekonomi Baru

Ia menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan kualitas produk ekspor secara signifikan dengan memanfaatkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi, sehingga mampu memperluas volume ekspor nasional.

Program hilirisasi ubi jalar ini juga menjadi bagian dari penguatan kawasan transmigrasi sebagai pusat ekonomi produktif.

Lahan transmigrasi dimanfaatkan tidak hanya untuk budidaya, tetapi juga untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan hasil panen serta membuka akses pasar hingga ke tingkat ekspor.

Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon dan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanegara. <b>(Ntvnews)</b> Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon dan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanegara. (Ntvnews)

Selain fokus pada produk ekspor, pemerintah juga mendorong pengolahan ubi jalar yang belum memenuhi standar ekspor agar tetap memiliki nilai tambah di dalam negeri.

“Saat ini, kita hanya 15 persen yang diolah, Yang diekspor adalah dalam bentuk mentah. Nanti kita tingkatkan menjadi sementara 50 persen lainnya diolah,” katanya.

Menurut Iftitah, pengembangan ubi jalar dalam skala besar memiliki potensi produktivitas yang cukup tinggi, yakni sekitar 15 ton per hektare dengan total lahan mencapai 1.000 hektare.

“Dalam 1.000 hektare lahan, tadi disampaikan per hektare bisa menghasilkan 15 ton ubi jalar,” ujarnya.

Baca Juga: Mentrans Iftitah: Kakao Mamuju Tembus Pasar Jepang, Jadi Bukti Daya Saing Kawasan Transmigrasi

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengembangan komoditas ini juga memerlukan model bisnis yang matang, termasuk dukungan investasi, penguatan rantai logistik, serta kepastian pasar agar hasil produksi petani dapat terserap secara optimal.

“Biasanya petani hanya menanam, tapi tidak tahu hasilnya akan dijual ke mana,” katanya.

Iftitah menegaskan bahwa pengembangan ubi jalar akan dilakukan secara terintegrasi dengan memanfaatkan lahan transmigrasi, tenaga kerja, teknologi dari perguruan tinggi, investasi, serta jaminan akses pasar.

“Jika langkah ini dikombinasikan, insyaallah hasilnya akan maksimal,” tutupnya.

(Sumber: Antara)

x|close