Ntvnews.id, Tokyo - Para menteri keuangan dari negara-negara Kelompok Tujuh pada Rabu, 15 April 2026, mencapai kesepakatan untuk mengambil langkah-langkah guna menjaga stabilitas ekonomi global di tengah ketidakpastian akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Di tengah lonjakan harga energi serta gangguan rantai pasok global, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyampaikan bahwa bank sentral cenderung bersikap hati-hati dengan pendekatan “wait and see” dalam menentukan kebijakan moneter.
Ia juga mengakui bahwa sulit memprediksi apakah gencatan senjata yang masih rapuh dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tersebut dapat berujung pada perdamaian jangka panjang.
“Saya percaya ada pemahaman bersama bahwa kita perlu melakukan yang terbaik untuk meredakan situasi, termasuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” ujarnya.
Katayama turut mengungkapkan bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent tidak menghadiri pertemuan karena benturan jadwal.
Baca Juga: G7 Gelar Pertemuan Bahas Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Perang Iran-AS Israel
Ia menambahkan bahwa pernyataan bersama non-G7 yang disusun oleh Inggris pada dasarnya mencerminkan pandangan mayoritas negara yang terlibat.
Pertemuan yang diikuti menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS, serta Uni Eropa ini tidak menghasilkan komunike resmi setelah pembahasan selesai.
Dalam dokumen yang disusun bersama Inggris, sejumlah negara seperti Australia, Jepang, Swedia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Norwegia, Irlandia, Polandia, dan Selandia Baru menilai bahwa dampak konflik Timur Tengah terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar global akan tetap terasa bahkan jika perang berakhir.
Dokumen tersebut juga menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama dan integrasi guna menjaga stabilitas kawasan maupun global. Konflik ini sekaligus memperlihatkan perbedaan pandangan yang semakin tajam antara AS dan negara-negara Eropa.
Meskipun dunia menyambut positif kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran, ketidakpastian masih tinggi.
Jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan global di wilayah selatan Iran masih belum sepenuhnya terbuka untuk lalu lintas kapal.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam di sela agenda musim semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, para peserta juga membahas dukungan terhadap Ukraina serta kerja sama pengamanan mineral kritis yang penting bagi industri teknologi dan keamanan nasional.
Baca Juga: G7 Bahas Pelepasan Cadangan Minyak Strategis di Tengah Lonjakan Harga Energi
Sebelum pertemuan G7 yang dipimpin Prancis sebagai presidensi tahun ini, Katayama juga sempat melakukan pertemuan bilateral dengan Scott Bessent.
Melalui media sosial, Katayama menyebut bahwa keduanya sepakat memperkuat komunikasi terkait nilai tukar, serta mengapresiasi penjelasan Bessent yang dinilai “sangat menarik” mengenai situasi Iran.
Katayama juga menyampaikan rencana pengadaan minyak mentah Jepang dari AS serta paket bantuan keuangan Tokyo bagi negara-negara Asia di tengah krisis energi.
Dukungan senilai 10 miliar dolar AS yang diumumkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Rabu, 15 April 2026, ditujukan untuk memperkuat rantai pasok energi di Asia, termasuk melalui pembiayaan pengadaan minyak mentah dan produk petroleum.
Pada hari yang sama, Katayama juga mengungkapkan bahwa Bessent berencana mengunjungi Jepang sebelum mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke China pada pertengahan Mei.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai informasi terkait Iran, Katayama menyatakan tidak dapat mengungkapkan secara rinci, namun mengisyaratkan bahwa hal tersebut berkaitan dengan pandangan pemerintahan AS mengenai peluang meredanya konflik serta kebijakan sanksi.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi negara G7. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)