Ntvnews.id, Beirut - Sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara yang dilancarkan Israel ke berbagai wilayah di Lebanon selatan.
Berdasarkan laporan kantor berita resmi National News Agency (NNA), Rabu, 15 April 2026, tim Pertahanan Sipil bersama Asosiasi Pramuka Risala Islam berhasil mengevakuasi empat jenazah serta menyelamatkan tiga korban luka dari puing-puing bangunan setelah serangan menghantam kompleks Al-Khodra di wilayah Qadmous.
Di kota Ansariyeh, lima orang dilaporkan tewas akibat serangan udara yang terjadi pada dini hari. Sementara itu, serangan lain di wilayah Abbasiya, distrik Tyre, mengakibatkan tiga orang mengalami luka-luka.
Di kota Jbaa, distrik Nabatieh, satu keluarga yang terdiri dari seorang pria, istrinya, serta dua anak mereka turut menjadi korban tewas setelah rumah mereka dihantam serangan udara.
Baca Juga: Tanker Raksasa Iran Diklaim Lolos Blokade AS, Berlayar Lewati Selat Hormuz
Serangan tambahan juga dilaporkan menyasar sebuah kendaraan di wilayah Saadiyat, kawasan Gunung Lebanon.
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon sepakat untuk memulai negosiasi langsung usai pertemuan trilateral yang berlangsung di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada Selasa.
Pertemuan tersebut menjadi kontak diplomatik langsung pertama antara Lebanon dan Israel dalam lebih dari tiga dekade. Inisiatif ini berlangsung di tengah operasi militer udara dan darat Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan, yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang serta memaksa sekitar satu juta warga mengungsi.
Israel diketahui meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah setelah kelompok tersebut melancarkan aksi balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada awal Maret.
Tim darurat bekerja di lokasi kejadian di mana asap mengepul dari lokasi yang menjadi sasaran setelah serangan serentak Israel di seluruh Lebanon, di Beirut pada 8 April 2026. (ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu/pri.) (Antara)