BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 08:03
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
(Ki-ka) Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan dalam konferensi pers rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan, di Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Anita Permata Dewi (Ki-ka) Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan dalam konferensi pers rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan, di Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Anita Permata Dewi (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan selama musim kemarau 2026 akan berada di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan pola hujan dalam 30 tahun terakhir.

"Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Baca Juga: BMKG Pastikan Tidak Ada Rekomendasi Evakuasi Usai Peringatan Tsunami Dicabut

Selain itu, BMKG juga memproyeksikan bahwa musim kemarau tahun ini akan terjadi lebih awal sekaligus berlangsung lebih lama dari biasanya. Periode kemarau diperkirakan mulai pada April atau Mei, dengan puncaknya terjadi pada Agustus.

"Kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang. Kita akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober," kata Teuku Faisal Fathani.

Di sisi lain, BMKG terus memantau perkembangan fenomena El Nino di wilayah Indonesia yang saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat.

"El Nino kita pantau saat ini masih lemah hingga moderate," katanya

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan BMKG untuk melakukan berbagai upaya pencegahan.

Baca Juga:BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Landa Jabar Selama Sepekan

Salah satu strategi yang diterapkan adalah rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang memanfaatkan teknologi penyemaian awan.

"Kita melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai, dengan bahan semai kemudian terjadi hujan itu dapat membasahkan lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin," kata Teuku Faisal Fathani.

(Sumber: Antara)

x|close