Ntvnews.id, Istanbul - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti semula, khususnya bagi Amerika Serikat dan Israel, seiring kebijakan keamanan baru yang tengah diterapkan Teheran di kawasan Teluk Persia.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan tersebut dalam unggahan di platform media sosial X.
Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Angkatan Laut IRGC telah memasuki tahap akhir kesiapan operasional untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai “tatanan baru untuk Teluk Persia.”
Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah parlemen Iran menyetujui di tingkat komite sebuah rancangan undang-undang yang mengatur pengenaan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: IRGC Klaim Hancurkan Pesawat AWACS AS dan Tembak Jatuh Drone di Tengah Konflik
Media Iran melaporkan bahwa usulan tersebut mencakup kewajiban pembayaran biaya lintasan menggunakan mata uang nasional Iran, rial, serta larangan melintas bagi kapal dari AS dan Israel. Selain itu, pembatasan juga diberlakukan terhadap negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Rancangan regulasi tersebut turut memuat ketentuan mengenai kedaulatan Iran atas selat, kewenangan militer, aspek keamanan maritim, perlindungan lingkungan, hingga kerja sama hukum dengan Oman.
Baca Juga: AS–Iran Disebut Sedang Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Diplomasi Berjalan di Tengah Ancaman Eskalasi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel serta negara-negara seperti Yordania dan Irak, serta kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta gangguan terhadap pasar global dan sektor penerbangan.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Negara-negara Teluk dan Selat Hormuz, jalur perlintasan minyak dunia. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)